Cerita Sex My HEROINE [by Arczre] – Part 69

Cerita Sex My HEROINE [by Arczre] – Part 69by on.Cerita Sex My HEROINE [by Arczre] – Part 69My HEROINE [by Arczre] – Part 69 BAB XXVI: LOVE LOVE LOVE #Pov Yuda# Han-Jeong telah menjadi pahlawan. Ya, dia menjadi pahlawan. Armor Black Knightnya telah menolong negara ini. Ikut juga membangun kota Jakarta yang porak-poranda. Bahkan Indonesia sekarang menjadi negara yang kuat, dihormati dan disegani oleh dunia. Aku tak begitu tertarik dengan urusan perpolitikan. […]

multixnxx- Rena Arai Yuzuha Takeuchi Rena Arai Yu-1 (2)multixnxx- Rena Arai Yuzuha Takeuchi Rena Arai Yu-1 (1) multixnxx- Rena Arai Yuzuha Takeuchi Rena Arai Yu-1My HEROINE [by Arczre] – Part 69

BAB XXVI: LOVE LOVE LOVE

#Pov Yuda#

Han-Jeong telah menjadi pahlawan. Ya, dia menjadi pahlawan. Armor Black Knightnya telah menolong negara ini. Ikut juga membangun kota Jakarta yang porak-poranda. Bahkan Indonesia sekarang menjadi negara yang kuat, dihormati dan disegani oleh dunia. Aku tak begitu tertarik dengan urusan perpolitikan. Yang jelas, selama presiden Faiz Hendrajaya memimpin Indonesia semakin maju, semakin modern, dan pembangunan semakin merata. Banyak hal-hal yang tidak pernah terlintas di benak semua orang seperti kereta api di dalam laut yang mana sebagai alat penyeberangan dari Jawa ke Kalimantan.

Bicara mengenai diriku. Aku sudah menjadi seorang suami dari orang-orang yang aku cintai. Jung Han-Jeong dan Azkiya adalah kedua istriku. Jangan protes kalau mereka berdua rela dengan senang hati menerima cintaku. Han-Jeong masih kuliah ketika aku memperistri dia. Sedangkan Azkiya, ia sudah lulus lebih dulu. Aku terus menyemangati Han-Jeong daripada dia jadi mahasiswa abadi. Azkiya kemudian bekerja di laboratorium milik Profesor Andy dan dia serius untuk menjadi seorang penemu. Dan dia sendiri yang kemudian menemukan sebuah lensa kontak untuk penderita buta warna seperti dirinya. Aku bangga punya istri seorang penemu. Aku sendiri sekarang selain punya padepokan pencak silat, aku juga mempunyai studio stuntman. Tahulah apa itu stuntman. Peran pengganti dalam film-film. Beberapa film sudah mengontrak jasa stuntmanku. Selain itu sebagai Gnome-X, aku juga tetap memback-up Black Knight. Aku tak mau ia bekerja sendiri nantinya, apalagi dia wanita. Han-Jeong nanti juga bisa hamil kan?

Hari ini aku berada di rumah Azkiya. Dia sepertinya lelah sepulang dari laboratorium. Ia melepas blazernya lalu dilemparkan ke sofa. Aku yang saat itu sedang di ruang latihan melihatnya. Segera aku menghampirinya.

“Baru pulang? Capek?” tanyaku. .

Dia tersenyum. “Iya, capek. Temeni aku mandi dong?” Azkiya dengan manja langsung memelukku.

Dalam kehidupan seksku, dia lebih agresif daripada Han-Jeong. Hmm…entahlah, semenjak aku menikahinya ia tak pernah malu-malu lagi soal seks. Mungkin karena terlalu lama di lab, bisa jadi. Mungkin juga karena cintanya kepadaku. Entahlah.

Tanpa malu-malu lagi, aku sudah meloloskan baju-bajunya. Tubuh Azkiya lebih mulus dari terakhir kali ia sebelum lepas kendali. Ini mungkin karena Putra Nagarawan telah menyembuhkan luka-lukanya. Dari ruang tengah kami sekarang sudah berada di kamar mandi. Ya tentu saja kami telanjang. Daripada mandi, kami lebih konsen untuk bercinta. Aku sudah lama tak menyentuh istriku, selama tiga hari ini ia tak pulang dan sibuk dengan penelitiannya.

Aku mengguyur tubuhnya dengan air shower. Kami pun berciuman di bawah pancuran air. Ahh..melihat tubuhnya yang seksi aku pun tak sabar lagi ingin memeluknya, kupeluk Azkiya. Kami berpagutan. Dia sudah haus akan seks. Aku bisa rasakan debar jantungnya.

Saat kucium dia, kuremas buah dada kanannya. Perasaanku saja atau buah dadanya makin besar? Putingnya masih berwarna kemerahan. Ya, tentu saja. Ia belum punya anak. Tangan Azkiya sudah menggenggam batang kemaluanku dan mengocoknya lembut. Kuhisap lehernya lalu ke buah dadanya. Aku pun menyusu kepadanya. Dia memeluk kepalaku dan meremas rambutku.

“Ohh…paahhh..,” ya, dia memanggilku papa sekarang. Terus terang Azkiya lebih menggairahkan ketika dalam keadaan seperti ini. Aku tidak pernah berpikir kalau aku bisa menjadi suaminya sekarang. Ya, kita telah sah. Kita telah sah mengikat cinta kita. Setelah aku puas menghisap buah dadanya, aku pandangi wajahnya lagi. Dia memejamkan matanya dan kening kami bertemu.

Kubalikkan tubuhnya, kemudian dia menungging. Kuarahkan pusakaku ke liang senggamanya sementara dia menungging berpegangan ke dinding kamar mandi. Ketika burung perkasaku mulai menyeruak masuk, Azkiya memekik tertahan.

“Ahhh…, papah aku kangen sekali papah giniin,” kata Azkiya.

Aku peluk tubuhnya sambil aku bergoyang maju mundur menerobos liang senggamanya yang sudah becek. Benturan pantatnya dan perutku menimbulkan suara yang sungguh menggairahkan. Aku suka bercinta dengan Azkiya. Dia pasti berusaha untuk bisa memuaskanku, ia selalu mencari cara agar aku puas. Seperti ini, pantatnya yang padat sekarang memutar-mutar seolah-olah memelintir batangku. Aku keenakan, kucari bibirnya sambil kuremas buah dadanya. Ahh…sungguh nikmat tak terkira.

Tanganku pun turun ke pinggangnya dan kini memegangi pinggangnya. Kini aku menyetir tubuhnya agar bisa aku kendalikan sementara aku tak mengubah ritme goyanganku. Azkiya memejamkan mata dan tubuhnya melengkung ke belakang. Pertanda dia sangat menikmati gaya bercinta seperti ini. Kemaluanku serasa diurut-urut, entahlah kapan Azkiya hamil benihku aku tak mempermasalahkannya. Paling tidak aku ingin dengan dirikulah akan lahir suku Kurdi baru ke dunia ini. Sementara Han-Jeong sudah mengandung tiga bulan hasil dari hubungan kami.

Tangan Azkiya menggapai leherku. Kami berciuman hangat lagi. Kuhujamkan sedalam-dalamnya kemaluanku hingga tak ada sisa. Sesaat kemudian aku tarik hingga terlepas. Istriku kini memutar tubuhnya, ia berhadap-hadapan denganku. Diangkatnya kaki kirinya, kemudian aku memajukan badanku. Kuposisikan batangku yang mengacung tegak ke arah liang senggamanya. Begitu masuk lagi Azkiya langsung memelukku. Kami bergairah sekali hari itu. Ingin rasanya aku terus menggenjot dia di kamar mandi ini, tapi toh setelah dari kamar mandi aku akan mengulanginya lagi nanti.

“Ahhh…pah…cepet pah, keluarin yahh…aku rindu ama sperma papa,” katanya.

“Padahal baru tiga hari belum disemprotin,” kataku.

“Ah…papaaahh…ayo dong, mama mau nyampe nih,” katanya.

“Iya, aku akan keluarin sekarang. Aku ingin dengan usahaku akan muncul Kurdi-kurdi kecil dari rahimmu,” kataku.

“Aahh…. papaaahh…aku cinta papah.” Aku dan Azkiya berciuman lagi.

Kini kami berusaha mencapai puncak. Aku genjot makin kencang. Kemaluanku makin memberikan efek enak yang tak pernah terduga sebelumnya. Begitu keras. Begitu geli dan gatal, seolah-olah ingin menyembur saja. Tapi aku komitmen, aku ingin memuaskan istriku dulu baru kemudian aku. Sama seperti yang aku lakukan kepada Han-Jeong. Aku makin erat memeluknya. Nafas kami makin memburu dan sampailah kami berdua kepada puncaknya. Kami keluar bersamaan. Walaupun tidak seperti biasa dia dulu yang keluar, tapi kami cukup puas.

Kudiamkan agak lama kemaluanku di dalam liang senggamanya hingga mengecil sendiri.

“Pah, ada kejutan sebenarnya,” katanya.

“Apa?”

“Sebentar lagi Kurdi-kurdi kecil kita akan hadir”

“Sungguh?”

Azkiya mengangguk. Aku bisa melihat betapa bahagianya dia. Ya, dia sangat bahagia. Aku juga tentunya.

“Sejak kapan?” tanyaku.

“Hmm…mungkin terakhir kali sebelum aku pergi ke lab,” katanya.

“Wah, that was great!” kataku. “Aku bakal ajari nanti Kurdi-kurdi kecil itu pencak silat.”

“Hahahaha, dasar papah. Hmmmhh…,” aku tutup mulutnya dengan ciuman. Betapa bahagianya hatiku sekarang. Akhirnya keinginanku terkabul juga.

* * * * MY HEROINE * * * *

Aku masih ingat ketika anak pertamaku lahir. Saat itu cuaca cukup buruk. Hujan deras disertai angin. Tapi akhirnya Han-Jeong berhasil juga persalinannya. Anak pertamaku lahir, seorang perempuan. Wajahnya sangat mirip dengan ibunya. Menurutku sih, tapi menurut Han-Jeong lebih mirip aku. Terus terang mengurus dua istri itu tidak mudah. Di saat Han-Jeong sudah melahirkan anaknya, kini Azkiya sedang hamil besar. Menurut dokter lebih mengejutkan, anaknya kembar. Dari hasil USG sudah diketahui bahwa kandungannya kembar. Ada dua kantong. Karena kandungannya besar, membuat Azkiya tak bisa berjalan karena terlalu berat menurutnya. Akhirnya ia hanya bisa menyampaikan ucapan selamat dari jarak jauh.

“Semangat ya, kamu pasti bisa!” kata Han-Jeong ketika menyapa Azkiya lewat M-chat. Azkiya bersama ibuku sekarang. Sementara aku mengurusi Han-Jeong.

Yang lebih bahagia tentu saja ibunya Han-Jeong. Dia tak menyangka putri kecilnya sekarang sudah menjadi ibu. Dan kejutan lainnya dia sudah jadi nenek sekarang. Sebagai mantan agen rahasia dan kemudian jadi ibu rumah tangga bisa dibayangkan bagaimana terbantingya hidup Jung Ji-Moon. Ah, lebih terbanting lagi karena kita sekarang adalah keluarga pemimpin negara.

Dalam sekejap stasiun tv dan media massa mengabarkan tentang kelahiran Arya Zulkarnain. Banyak yang ingin bisa mengabadikan anakku, tapi aku tolak semua. Faiz Hendrajaya datang sehari setelah Han-Jeong melahirkan walaupun sibuk, tapi beliau sempatkan hadir. Di usianya yang sudah tidak muda lagi, Faiz Hendrajaya masih terlihat berwibawa. Melihat orang-orang yang mencintainya merupakan semangatnya untuk terus hidup.

Bagaimana dengan Hana dan Ryu? Ah, aku tidak melihat mereka semenjak mereka pindah ke Tokyo. Ya, Hana dan Ryu sudah berumah tangga sekarang. Aku tak pernah menyangka saja Hana mau saja menerima lamaran Ryu. Well, that was another story, aku juga cukup senang dengan keadaan mereka sekarang.

Ryu sudah tidak lagi mengejar Gnome-X. Aku pun sudah lama juga tidak menjadi Gnome-X setelah menjadi suami Han-Jeong. Hana dan Ryu memang sibuk menjadi Polisi Cyber. Entahlah bagaimana kehidupan mereka sekarang. Semoga mereka juga sama berbahagianya dengan kami.

* * * * MY HEROINE * * * *

Dua tahun kemudian.

Dunia masih sama seperti sebelumnya. Damai. Walaupun ada konflik-konflik di negara lain, tapi untuk ukuran Indonesia keadaannya damai. Memang ada kejahatan-kejahatan kecil tapi semuanya bisa diatasi oleh para superhero lainnya. Hampir dua tahun ini Black Knight dan Gnome-X tidak muncul. Semuanya teratur, semuanya perfect harmony.

Aku baru saja menyelesaikan syuting adegan film. Sebagai koreografer memang melelahkan. Dan tidak hanya itu aku juga cukup lelah dengan keadaanku sekarang ini. Tapi untunglah kedua istriku mau memahamiku. Aku suka, ketika mereka mau menerimaku apa adanya. Dengan semua kelemahanku, dengan segenap kekuranganku. Aku telah memperjuangkan mereka. Memperjuangkan cinta mereka. Aku tak ingin seperti Putra Nagarawan. Seandainya saja dia bisa diselamatkan ketika masa kecilnya dulu, apakah dunia kita bisa seperti sekarang ini? Apakah dia akan jadi seorang presiden yang baik? Dan apakah ayahku dan ibunya Azkiya akan tetap hidup?

Ah, entahlah. Itu pertanyaan yang terlalu rumit. Kalau misalnya suatu saat ditemukan mesin waktu, maksudku cara agar kita bisa kembali ke masa lalu. Sebagaimana cucuku yang datang dari masa depan menolongku dulu, mungkin aku akan coba cara untuk bisa menolong Putra Nagarawan. Semoga saja.

“Papah, ayo sini!” panggil Azkiya dari kejauhan.

Kami sedang berlibur di pantai. Kulihat Han-Jeong dan Azkiya duduk di dalam satu tikar menikmati pemandangan matahari terbenam. Sementara itu anak-anak kami sedang bermain pasir. Total sekarang aku punya tiga orang anak dan satu lagi sedang dalam kandungan Han-Jeong. Hahaha, entahlah berapa anak yang bakal aku miliki nanti. Kita lihat saja.

Kuhampiri mereka. Kedua bidadariku.

Author: 

Related Posts

Comments are closed.