Cerita Sex Belajar Bersama Ella – Part 3

Cerita Sex Belajar Bersama Ella – Part 3by on.Cerita Sex Belajar Bersama Ella – Part 3Belajar Bersama Ella – Part 3 “ASTAGA….! kalian….!” “Bruuk…” Perempuan bertubuh langsing itu menjatuhkan buku dan LKS dari dekapan tangannya, dan dengan segera menutupi mulutnya yang ternganga dengan kedua telapak tangannya, pipinya terlihat memerah kontras dengan warna kulit lengannya yang kuning langsat, dengan masih mengenakan seragam sekolah atasan putih berdasi biru tua, bawahan rok kotak-kotak […]

0_773 4_723 dadaBelajar Bersama Ella – Part 3

“ASTAGA….! kalian….!”

“Bruuk…” Perempuan bertubuh langsing itu menjatuhkan buku dan LKS dari dekapan tangannya, dan dengan segera menutupi mulutnya yang ternganga dengan kedua telapak tangannya, pipinya terlihat memerah kontras dengan warna kulit lengannya yang kuning langsat, dengan masih mengenakan seragam sekolah atasan putih berdasi biru tua, bawahan rok kotak-kotak biru bergaris putih lengkap dengan kaos kaki putih yang masih menutupi kedua kakinya yang ramping ia masih saja berdiri tercengang melihat kami berdua yang tengah sibuk meraih celana masing-masing.

Tanganku sibuk mengenakan celana yang baru saja kuraih dari atas karpet, terlihat Ella menutupi kemaluannya dengan bantal lalu tergesa meraih celana dalamnya disamping meja belajar dan dengan segera mengenakannya.

Aku dan Ella hanya duduk terdiam, rasanya bibir ini menjadi kelu, tak tahu apa yang harus dilakukan, suasana menjadi sangat beku, yang terdengar hanya gemericik air hujan membasahi atap ruangan ini.

Dalam pikirku bergumam, oh shit…aku harus berkata apa untuk menjelaskan semua ini kepada Tania, ya.. Tania seorang perempuan bermata coklat dan berparas cantik blasteran Sunda Rusia ini merupakan salah satu anggota kelompok belajar kami, disekolah dia terkenal smart, pemberani dan gaya bicaranya frontal ceplas-ceplos, walaupun gayanya seperti itu dia selalu masuk dalam rangking 3 besar dikelasku.

Ya.. begitulah Tania, sebelumnya dia menelpon tidak bisa datang untuk kerja kelompok tetapi tiba-tiba saja muncul tanpa pemberi tahuan, orangnya memang sulit ditebak, impulsif.. sisi misteriusnya seringkali terlihat dari balik tebalnya frame kacamata wayfarer yang tertambat diatas hidungnya yang mancung mirip hidung orang Rusia, gaya tutur katanya campur aduk dengan bahasa Inggris, yaa kami bersekolah disekolah internasional, jadi dialek seperti itu sudah sangat biasa terdengar dikeseharian kami disekolah.

Diambilnya buku dan LKS yang tadi terjatuh dari dekapannya, Tania berjalan kearah meja belajar disimpannya buku-buku itu diatas meja seiring tangan kanannya menanggalkan tas selempangnya diatas karpet.

TIba-tiba kebekuan itu terpecahkan oleh suara Tania…

“Sorry guys… kedatanganku mengejutkan kalian, bel nya rusak ya El? tadi dibawah bi Ani menyuruhku untuk langsung menemui kalian disini, and…surprise! kalian terbaring dan setengah telanjang…hmm…apa yang sebenarnya sedang terjadi diantara kalian, can you tell me guys?”

Pertanyaannya terdengar begitu tenang tapi sangat menggetarkan dada, “tik..tak..tik..tak” yang terdengar hanya bunyi detik jam dinding, suasana begitu hening, aku hanya tertunduk menahan malu dan perasaan yang tak menentu, begitupun Ella wajah nya tampak pucat pasi duduk bersandar memeluk bantal merah, dan Tania pun kembali berkata…

“ok guys.. jika diantara kalian tidak ada yang mau berbagi cerita, mari kita selesaikan tugas kelompoknya..and.. besok disekolah aku akan berbagi cerita tentang apa yang barusan kulihat kepada teman-teman dikelas, Well.. bisa kita lanjutkan kerja kelompoknya?”

“Tunggu.. pliss Tan.. jangan…! plis jangan bilang siapapun kamu jangan salah faham, oke..oke.. aku mau cerita!”

Seketika itu Tania bergegas menarik kursi lalu duduk bersama berhadap-hadapan dimeja belajar.

“ok..oh wait! Ella…will you join us here?”

Kulihat Ella hanya duduk terdiam memeluk bantal tanpa ada ekspresi tak ada sepatah katapun terlontar dari mulutnya, air matanya tampak menggenang dibawah bola matanya.. lalu Tania berdiri menghampirinya..

Tania : “it’s ok honey…look at me, this is our secret, aku gak akan cerita kesiapapun… i promise..!”

Tania memeluknya, lalu digenggamnya tangan Ella sambil mengajaknya berdiri menghampiriku dimeja belajar, Ella pun turut berdiri lalu duduk bersebelahan dengan Tania.

“ok Van.. hey! jangan tegang gitu dong…just relax bro! Ehem.. eh El boleh minta minum, aku haus nih..!”

“oh.. kamu mau minum apa Tan?

“teh manis hangat aja El, thanks yaa..”

Ella beranjak dari kursinya, lalu mengangkat gagang telpon meminta bi Ani membawakan minuman untuk Tania.
Seperti dikatakan Tania tadi, yaa aku memang sangat tegang karena sedang berfikir keras merangkaikan cerita palsu dikepalaku yang akan kusampaikan kepada Tania dengan maksud untuk tidak terlalu memmpermalukan diriku dan Ella dimata Tania.

Setelah Ella kembali duduk, aku pun mulai bercerita.

“Jadi gini, pada awalnya aku dan Ella berkutat dimateri presentasi yang ngebahas struktur alat reproduksi, nah dibuku itu dikatakan bahwa klitoris itu memiliki struktur yang sama dengan penis..”

“hahaha…really??.. ok lanjut Van..!”

“Nah.. terus dari situlah awalnya aku penasaran dengan bentuk klitoris, karena kalo lihat digambar yang ada dibuku itu, aku bilang ke Ella kalo bentuknya lebih mirip kacang, terus…’

“hahahaha…hahaha…very funny! terus..terus..!”

“yaa.. terus karena rasa penasaranku itu, hmm… aku..yaa..aku minta ke Ella untuk bisa melihat secara langsung bentuk klitoris itu, lalu singkat cerita Ella menyetujuinya dengan syarat diapun boleh melihat bentuk penis secara langsung pula”

“hoo..ho..ho..terus terus?”

“yaa..hmm… demi memenuhi rasa penasaran itulah, kami melakukan penelitian pada masing-masing alat kelamin kami”

“hahahaha…wow..penelitian hahaha…terus terus?”

“yaa terus… ketika penelitian itu selesai, dan kami belum sempat memakai celana kami masing-masing, disitulah kamu datang Tan… jadi semua kejadian itu tidak seperti yang kamu pikirkan Tan… kami hanya sedang melakukan penelitian kecil saja…ya..that’s it Tan!”

“hoo! memangnya kamu pikir aku memikirkan apa Van ketika kulihat kalian setengah telanjang didepan mataku?”

“dugaanku sih kamu mengira kami sudah melakukan sesuatu yang lebih dari itu”

“hahaha… yes! of course!”

“Enggak! gak begitu Tan..sungguh kami tidak melakukan hal seperti dugaanmu!”

“Oya, really?? are sure?”

“yaa tentu saja aku yakin..aku bicara apa adanya kok Tan!”

“Ooh..hmm.. wait a minute, what is this?”

Tania mengarahkan tatapannya kearah dada Ella, sambil menurunkan kacamata, ujung jari telunjuknya menyentuh cairan yang membasahi baju Ella, dengan seketika Ella berkata,

“oh.. hmm..ii..itu tadi bekas fla susu puding tumpah waktu aku sedang memakannya, Rivan gak sengaja berjalan tanpa melihat kearahku!”

“Oya? Hmm…tunggu tunggu..!”

terlihat ada secuil lendir kental yang menempel disekat kancing baju Ella, lalu Tania menyentuhnya dan merekat-rekatkan cairan putih kental itu dikedua jarinya, kemudian dengan penuh rasa penasaran, Tania mendekatkan ujung hidungnya yang runcing itu ke dada Ella, dihisapnya sambil sekejap memejamkan kedua matanya.

“Hmm…sepertinya aku kenal aroma ini…yaa.. hmmm…this is sperm!”

DEG! jantungku berdegup lebih kencang, dalam hatiku kembali bergumam, ooh shit! kulihat Ella pun raut mukanya tampak tegang lalu berkata,

“No..nonono! itu bukan sperma Tan…sungguh!”

“Oya? are you sure?”

“Yaa! beneran Tan…itu susu kental dari puding..!”

“Hoo.. gitu ya? baiklah kalo gitu, besok disekolah aku akan mendiskusikan masalah ini bersama teman-teman, mencari tau apa sebenarnya cairan putih kental yang menempel dibajumu ini El”

“Jangan! please…jangan Tan..don’t do that..ok ok.. thats sperm!”

Tubuhku seketika langsung lemas mendengar apa yang Ella ucapkan kepada Tania, aku hanya bisa pasrah sambil tertunduk lesu menahan rasa malu yang teramat sangat, lau Tania pun kembali bertanya.

“So…it’s your sperm”

Sorot matanya tajam, sambil memasangkan kembali kacamatanya menatap kearahku, lalu aku manjawab hanya dengan sebuah anggukan tanpa berkata sedikitpun, lau kudengar kembali Tania berkata,

“Are you making love??”

“No!”

Terdengar jawaban yang sedikit keras dari mulut Ella.

“So…apa yang sebenarnya terjadi?”

Suasana menjadi hening, bibirku kembali kelu rasanya aku tak sanggup untuk menceritakan seluruh kejadian yang sebenarnya kepada Tania, tetapi disisi lain aku tidak mau kalau nanti Tania menceritakan semua ini kepada orang lain karena aku sadar sepenuhnya kalau Tania ini orangnya sulit diduga, karakternya misterius, terlebih sedari tadi dia dengan kecerdasannya menginterogasi aku dan Ella, mengarahkan kami pada posisi yang sangat sulit untuk mengelak, menempatkan aku dan Ella pada posisi skak matt!

Tiba-tiba terdengar sura ketukan pintu memecah keheningan, “ini minumannya non..” dengan segera bi Ani menyuguhkan segelas teh untuk Tania, “ok makasih yaa mbak”

Lalu terdengar sura hembusan nafas panjang keluar dari mulut Ella, dan lalu ia berkata,

“Hmmmmmhhhhh….ok, akan kuceritakan semuanya…”

Aku dikagetkan dengan ungkapan yang baru saja terlontar dari mulut Ella, aku pun seakan pasrah saja tanpa menghalang-halanginya untuk terus menceritakan kejadian yang sesungguhnya kepada Tania.

Dengan sangat detail Ella menceritakan kejadian yang sebenarnya kepada Tania, dari awal sampai akhir tak ada satu bagianpun yang terlewatkan, yaa jelas saja bagaimana mungkin aku dan Ella bisa melupakan kejadian yang baru saja dan pertamakali kualami seumur hidupku.

Sesekali terdengar Tania berseru kaget disela-sela rangkaian cerita yang sedang Ella paparkan, berkali-kali kulihat gigi depannya menggigit-gigit kecil bibir bagian bawahnya, apalagi waktu Ella bercerita saat ketika vaginanya berkedut-kedut karena sentuhan ujung jariku diklitorisnya yang mengakibatkan tubuhnya menggelinjang hebat karena sensasi yang dirasakannya, Tania merubah posisi duduknya saat mendengar paparan itu, lalu tangannya meraih dasi yang masih melingkar longgar dikerahnya, menariknya dan menyimpannya, kerah seragam putihnya sedikit terbuka dan terlihat bagian dada atasnya mengkilap…yaa dia berkeringat.

Sesekali salahsatu tangannya bergantian mengibaskan rambutnya yang panjang halus berkilau, mengarahkan rambutnya terkumpul seluruhnya dibahu kanannya, dan ketika Ella dengan detail menceritakan bagian dimana saat ketika ujung penisku menekan-nekan klitorisnya, dengan refleks Tania berkata “o.. my god!”

Dan untuk kedua kalinya Tania berseru “O..my God!” ketika Ella menceritakan bagian saat jari tengahku kuselipkan diantara belahan pantatnya, kutekan-tekan jari tengahku… yang mana saat itu ia menggelinjang hebat… mengerang dan menaikan tempo genjotannya, tetapi tekanan memeknya jauh lebih menekan kearah penisku, diiringi kedutan berkali kali dari memeknya terasa oleh ujung penisku.

Ella pun terus menceritakan dengan detail bagian dimana saat ujung kepala penisku menyemprotkan cairan kental berwarna putih berkali – kali sehingga membasahi dan mengotori bajunya.

Tanpa disadarinya, bibir Tania terbuka tampak melongo mendengar paparan cerita dari Ella.

“Udah Tan, itulah yang terjadi sebenarnya, dan disaat itu kamu datang dari pintu itu menatap tercengang kearah kami”

“Are you sure? hanya sampai disitu saja yang kalian lakukan?”

“Maksudnya Tan?”

“I mean, apakah kalian melakukan penetrasi?”

“Hmm…aku gak ngerti maksud kamu Tan!”

“Oh Gosh… Ella.., apakah penis Rivan masuk kedalam lobang vagina kamu?”

“No! sama sekali enggak Tan, kami tidak melakukannya!”

“Really?? I don’t believe it!”

“Astaga, sungguh Tan kami tidak melakukannya!”

“Are you still virgin El?

“Of course Tan! aku masih perawan!”

” I don’t believe it! sampai aku bisa melihat vagina kamu dengan mata kepalaku sendiri!

“What!”

Bersambung…….

Author: 

Related Posts

Comments are closed.