Cerita Sex Pendekar Naga Mas – Part 36

Cerita Sex Pendekar Naga Mas – Part 36by on.Cerita Sex Pendekar Naga Mas – Part 36Pendekar Naga Mas – Part 36 Mendapat durian runtuh. Siang Ci-ing merasakan hawa panas semakin menyelimuti seluruh tubuhnya, kesadarannya mulai berkurang, napsu birahinya makin berkobar, dia seperti menginginkan “sesuatu”…. Tak terlukiskan rasa kaget nona itu setelah mendengar perkataan musuhnya. Begitu konsentrasinya buyar, tubuhnya segera tertotok oleh serangan yang dilancarkan perempuan cantik itu. Tanpa ampun badannya […]

yEzKSWgTTd yJfY0Ge3oy z4nNU5pENWPendekar Naga Mas – Part 36

Mendapat durian runtuh.

Siang Ci-ing merasakan hawa panas semakin menyelimuti seluruh tubuhnya, kesadarannya mulai berkurang, napsu birahinya makin berkobar, dia seperti menginginkan “sesuatu”….

Tak terlukiskan rasa kaget nona itu setelah mendengar perkataan musuhnya.
Begitu konsentrasinya buyar, tubuhnya segera tertotok oleh serangan yang dilancarkan perempuan cantik itu.

Tanpa ampun badannya seketika roboh ke tanah.
Pada saat itulah mendadak terdengar suara derap kaki kuda berkumandang dari kejauhan, derap kaki kuda yang bergerak makin mendekat disertai bentakan seseorang yang amat nyaring,
“Minggir!”

Cau-ji tahu pastilah dua bersaudara Suto yang telah datang, maka bentaknya pula, “Bunuh!”

Bentakan itu disertai segenap tenaga dalam yang dimilikinya, selain itu didorong pula oleh perasaan cemas dan hawa napsu yang meningkat.

Begitu menggema di angkasa, bagai guntur yang membelah bumi di siang hari bolong, membuat semua orang terkesiap dan jantung berdebar keras.

Suto bersaudara tahu bahwa Cau-ji sangat cemas dengan situasi yang dihadapinya, maka sebelum kudanya tiba, dengan gerakan rajawali sakti pentang sayap mereka menerkam ke depan.

Begitu meluncur tiba, pedangnya sudah dilolos dari sarungnya.
Dua orang kakek yang sedang konsentrasi menghadapi serangan maut Bu-siang-sin-kang jadi
kaget setengah mati ketika merasakan datangnya hawa pedang yang dingin dari arah belakang.

Buru-buru mereka berdua mengegos ke samping.
Begitu melihat barisan itu menunjukkan lubang kelemahan, Cau-ji segera memanfaatkan dengan sebaik-baiknya, cepat tubuhnya berkelebat ke arah kakek sebelah kanan yang sedang
mengegos dan menghadiahkan sebuah pukulan maut.

“Aduuh diiringi jeritan ngeri, tubuh orang itu seketika terbelah jadi dua bagian.
Menggunakan kesempatan saat kakek di sampingnya kaget bercampur gugup, kembali telapak
tangan kirinya menghantam dadanya kuat-kuat.

Meskipun dengan cekatan kakek itu berhasil menghindari serangan ke bagian tubuh mematikan
itu, namun terdorong angin pukulan yang kuat, badannya mundur sempoyongan dan bergeser ke hadapan Suto Bun.

Dengan jurus Liu-seng-peng-gwe (bintang kejora mengejar rembulan), pedangnya langsung
menusuk ke punggungnya dan mengakhiri hidupnya.
“Tempat ini kuserahkan kepada kalian berdua!” bentak Cau-ji kemudian, dengan sekali lompatan dia menghampiri Siang Ci-liong.
Waktu itu Siang Ci-liong sedang terbelenggu oleh barisan Sam-jay-tin yang dilakukan tiga perempuan cantik, keadaannya sangat mengenaskan.

Masih berada di tengah udara, Cau-ji dengan jurus Thay-san-ya-teng (bukit Thay-san menindih
kepala) dia babat tubuh seorang perempuan cantik.

Baru saja dengan susah-payah perempuan cantik itu menghindari serangan, pedang Cau-ji dengan jurus Yu-hun-jan-sin (sukma bengis menempel tubuh), Huntoan-nay-ho (sukma putus tak berdaya) serta Kui-ong-tham-jiau (raja setan pentang cakar) telah mencecar.

Sekali lagi terdengar jeritan ngeri berkumandang di angkasa, perempuan cantik itu sudah termakan sebuah tusukan dan roboh terkapar di tanah.

Melihat rekannya tewas, kelima kakek lainnya meraung gusar, serentak mereka berlari mendekat.

Cau-ji tahu mereka akan mengurung dirinya lagi dengan Ngo-heng-tin, maka hardiknya, “Tidak
usah menggunakan cara kuno!”
Tubuh berikut pedangnya langsung meluncur ke tubuh salah satu di antara kakek itu.
Cepat orang itu berkelit ke samping, tapi belum sempat berdiri tegak, telapak kiri Cau-ji dengan jurus Poan-koan-kou-hun (hakim sakti menggaet sukma) telah menghajar kepalanya dengan keras.

Kebetulan Cau-ji melayang turun persis di samping kiri seorang perempuan cantik, tidak membuang waktu pedangnya langsung ditusukkan ke pinggang perempuan itu hingga tembus.
Diikuti jeritan ngeri, tewaslah perempuan itu seketika.

Rekannya buru-buru mengegos ke samping untuk melarikan diri, tapi Siang Ci-liong segera menyusul ke depan sambil membabat tubuhnya.
Cau-ji tidak tinggal diam, dia mengayunkan juga tangan kanannya, “Blam!”, tubuh perempuan
terakhir itu seketika hancur berantakan.

Kini di arena tinggal tujuh orang kakek berbaju hitam serta perempuan cantik yang sedang membopong tubuh Siang Ci-ing, melihat betapa dahsyatnya ilmu silat yang dimiliki Manusia penghancur mayat, serentak mereka mundur.

Suto bersaudara pun ketakutan sampai tak bisa bergerak lagi.
“Tahan!” mendadak perempuan cantik itu membentak.
Sambil berkata, telapak kanannya langsung ditempelkan di atas jalan darah Thian-leng-hiat di
ubun-ubun Siang Ci-ing.

Agak tertegun juga Cau-ji melihat ancaman itu, tegurnya, “Mau apa kau?”
“Minggir!” bentak perempuan cantik itu.
“Tinggalkan dulu orang itu!”
“Boleh, setelah kami pergi, tentu saja dia akan kutinggalkan!”
“Lepaskan dia dulu, kemudian kalian baru pergi.”
“Tidak!”

Hawa amarah kontan berkobar dalam dada Cau-ji, sebuah pukulan dahsyat kontan dibacokkan
ke depan.

“Kau.. dengan ketakutan orang itu menjerit, tergopoh-gopoh dia berkelit ke samping.
“Lepaskan dia dan kalian segera pergi!” kembali Cau-ji menghardik.

Tanpa pikir panjang orang itu segera membebaskan Siang Ci-ing dari cengkeramannya, kemudian setelah memberi tanda kepada kawanan kakek berbaju hitam itu, serentak mereka
kabur dari situ dalam keadaan sangat mengenaskan.

Dari dalam sakunya Siang Ci-liong mengeluarkan sebuah Giok-pay (lencana kemala) serta dua
lembar uang kertas, diserahkan kepada seorang pemuda berbaju perlente, katanya, “Saudara Liu, coba kau pergi memanggil kawanan opas!”

Kemudian ia mulai memeriksa keadaan luka yang diderita Siang Ci-ing, setelah memeriksa denyut nadinya beberapa saat, tiba-tiba paras mukanya berubah hebat.

Lama sekali dia termenung, akhirnya sambil menjura kepada Cau-ji, tanyanya, “Tolong tanya
apakah kau adalah saudara Yu?”
“Benar!” sahut Cau-ji sambil mengangguk, “aku adalah Yu Si-bun!”
“Saudara Yu, boleh aku bicara?”
“Katakan saja saudara Siang”

Cau-ji mengikuti Siang Ci-liong naik ke lantai tiga rumah makan Hong-hok-lau, di situ dengan wajah serius Siang Ci-liong berkata, “Saudara Yu, tolong tanya bagaimana kesanmu terhadap adik perempuanku?”

Agak bergetar hati Cau-ji menghadapi pertanyaan itu, setelah termenung sejenak, sahutnya, “Kecantikan adikmu bagai bidadari dari kahyangan, bukan cuma menguasai ilmu Bun (sastra),
juga mahir Bu (silat), aku yakin pasti banyak putra raja, cucu pangeran, dan pendekar ganteng
yang mengimpikan dirinya!”

Sekulum senyuman segera menghiasi ujung bibir Siang Ci-liong, sahutnya, “Betul sekali! Hanya
sayangnya adikku selalu memandang terlalu tinggi dirinya, dia punya selera tinggi hingga sampai sekarang belum menemukan pasangan yang cocok.”

“Tapi sejak menyaksikan pertarunganmu melawan Susiokco tempo hari, kelihatannya adikku sangat menaruh perhatian terhadapmu, tolong tanya apakah saudara Yu…

“Saudara Siang, lebih baik kita bahas persoalan ini lain waktu saja,” tukas Cau-ji cepat, “yang
penting sekarang adalah bagaimana menyadarkan adikmu.”

“Saudara Yu,” paras muka Siang Ci-liong berubah amat serius, “menurut hasil analisaku setelah
memeriksa denyut nadinya, dia sudah terkena obat perangsang yang keras pengaruhnya, untuk
menyelamatkan jiwanya hanya ada satu jalan, yakni melakukan hubungan badan antara lelaki dan wanita!”
“Tapi…
“Saudara Yu, sejak kematian ayahku, keluarga kami tinggal Siaute serta adikku ini saja, aku
sebagai kakak jelas harus bertanggung-jawab atas keselamatan jiwanya, karena itu aku akan menjadi walinya untuk memutuskan soal perkawinan adikku itu. Siaute ingin tanya, apakah kau
punya niat dengan adikku itu?”

“Soal ini … saudara Siang, Siaute sudah punya istri dan istri muda, sekalipun belum dinikah secara resmi, namun mereka sudah berkumpul denganku, jika kau tidak keberatan masalah ini,
tentu saja Siaute sangat setuju!”

Kembali Siang Ci-liong termenung sambil berpikir, kemudian ujarnya tegas, “Bila saudara Yu menyetujui, berarti kau telah menyelamatkan nyawa adikku, buat apa mesti meributkan soal
status dan sebutan?”

“Kau tak usah kuatir saudara Siang,” janji Cau-ji dengan wajah sungguh-sungguh, “Siaute akan selalu memandang mereka sederajat, tak ada perbedaan mana yang tua dan mana yang muda.”

“Terima kasih banyak saudara Yu,” teriak Siang Ci-liong kemudian kegirangan, “kalau begitu kuserahkan adikku kepadamu. Siaute buru-buru akan mengurusi luka para saudara lainnya, aku
harus balik dulu ke kota Lok-yang.”

“Baik, bila urusan telah selesai, Siaute pasti akan menyambangimu di rumah.”
“Hahaha, kalau begitu Siaute akan menunggu kehadiranmu, sampai jumpa!”

Setelah turun dari loteng, mereka berdua saksikan ada enam orang opas sedang memberi petunjuk kepada rakyat untuk membantu memberesi mayat serta noda darah yang berceceran.

Siang Ci-liong sendiri menerima sesosok mayat dari rekannya, setelah berpamitan dengan Cauji, dia pun berlalu dari situ dengan cepat.

Tujuh ekor kuda tanpa penunggang mengikut di belakangnya.

0oo0

Sepeninggal Siang Ci-liong, Cau-ji segera membopong Siang Ci-ing sambil berbisik kepada Siausi dengan ilmu menyampaikan suara, “Enci Si, tugas berat telah datang!”

Siau-si tersenyum, sahutnya, “Adik Cau, Thian telah melapangkan jalanmu, bukan cuma mendapat hartanya, juga memperoleh orangnya, kenapa dibilang tugas berat?”
Cau-ji hanya tertawa getir, diam-diam mereka segera mengeluyur pergi dari situ.

Sepeninggal mereka dari rumah makan Hong-hok-lau, Cau-ji bertiga segera bergerak cepat bagaikan sambaran kilat, untuk menghindari hal-hal yang tak diinginkan, mereka sengaja memilih jalan terpencil dan jauh dari keramaian manusia.

Satu jam kemudian tibalah mereka di bukit Lok-ga-san.
Di balik hutan belukar yang sangat lebat mereka bertiga menemukan sebuah gua yang sangat dalam, mereka pun memasuki gua itu dan membersihkannya sebentar, lalu dari dalam buntalannya Siau-si mengeluarkan dua stel pakaian dan direntangkan di lantai sebagai alas tidur.

“Adik Cau,” bisik Siau-bun kemudian, “apakah nona Siang terkena racun jahat?”
“Benar,” sahut Cau-ji sambil tertawa getir, “menurut hasil pantauanku setelah memeriksa denyut nadinya, obat perangsang Jit-seng-kau yang meresap ke tubuhnya sudah mulai bekerja, kelihatannya aku harus membuang banyak tenaga untuk mengobatinya.”

“Bagus sekali,” seru Siau-bun kegirangan, “dengan begitu kami akan memperoleh seorang pembantu yang handal untuk melayani kebutuhanmu.”

“Adik Cau,” kata Siau-si pula, “kami sempat cemas ketika melihat mereka datang mencarimu semalam, tak nyana gara-gara musibah malah mendapat rejeki.”
Kembali Cau-ji tertawa getir.
“Ai, pertarungan yang berlangsung tadi sungguh amat sengit, tak kusangka kekuatan yang dimiliki perkumpulan Jit-seng-kau begitu tangguh dan hebat, lain kali nampaknya kita mesti lebih berhati-hati,”

“Adik Cau, kau boleh berlega hati untuk ‘menolong orang’, bila kawanan bangsat itu berani datang mengganggu, Cici tak akan membiarkan mereka keluar dalam keadaan hidup.”

Selesai berkata mereka berdua siap meninggalkan gua.

“Hey, tunggu dulu,” Cau-ji segera berteriak, “kalian harus tetap di sini membantu aku!”
“Ah, tidak, hanya melihat buah segar sambil menahan dahaga, sengsaralah kita berdua,” omel Siau-bun cepat.
“Siaute kuatir tak sanggup mengendalikan dia, kan dia terkena obat perangsang.”
“Hahaha, ternyata ada saatnya juga kau merasa takut.”
“Jangan menggoda aku, aku kuatir melukainya, jadi mesti hati-hati, apalagi jika obat perangsang itu mulai bekerja, kesadarannya pasti hilang, apa jadinya kalau sampai terluka?”
“Hahaha, baiklah, mengingat kebaikanmu selama ini, kami akan tetap tinggal di sini, cuma kami
mesti bicara dulu di muka, kami hanya membantu, bukan berarti harus memikul beban tanggung jawab terakhir bila hasratmu tak kesampaian.”

“Tentu, tentu, Siaute pasti akan menyelesaikan tugas ini bersamanya.”
Sambil berkata dia mulai melucuti pakaian sendiri.
Dua bersaudara Suto membantu melucuti pakaian Siang Ci-ing hingga bugil.
Tiba-tiba terdengar Siau-bun berseru tertahan, sambil menuding bagian bawah gadis itu, serunya, “Coba kalian lihat!”

Cau-ji berpaling, ia segera jumpai di bagian atas “lubang surga” milik Siang Ci-ing yang bulat menonjol ditumbuhi bulu hitam yang sangat lebat dan panjang.

Sebenarnya bulu hitam yang tumbuh di bagian bawah perut bukanlah sesuatu yang aneh, tapi
bulu lebat yang dimiliki gadis ini agak aneh, bukan saja dari lubang surga hingga ke bawah tumbuh bulu yang panjang dan lebat, bahkan di seputar pantat pun banyak ditumbuhi bulu lebat, sesuatu yang jarang dijumpai.

Dengan tangan gemetar Cau-ji mengelus bulu lebat itu, terasa bulu itu halus dan lembut, dia
mencoba mencabut sehelai rambut bawah itu dan diamati sekejap, lalu gumamnya, “Wah, ternyata bulu sungguhan!”

“Ssst, jangan berteriak, tentu saja bulu sungguhan!” seru kedua gadis itu agak tersipu, “kalau bukan bulu sungguhan, buat apa dia tempelkan bulu di bagian bawahnya yang tersembunyi?”
“Wah, coba lihat, di bagian sini pun ditumbuhi juga bulu lebat!”

Mengikuti arah yang dituding Cau-ji, Suto bersaudara segera mengamati dengan seksama, benar saja, di seputar lubang dubur pun ditumbuhi bulu lebat berwarna hitam, kenyataan ini kontan membuat mereka makin tercengang.

Cau-ji masih mengamati tubuh bagian bawah nona itu dengan perasaan keheranan dan ingin tahu.
Menyaksikan tubuh Siang Ci-ing mulai gemetar keras, Siau-si buru-buru berbisik, “Adik Cau, sudah, jangan ditengok melulu, sekarang dia mulai tak tahan, kau harus segera bekerja.”
“Kalau begitu pegangi tangan dan kakinya, Siaute segera akan membebaskan totokan jalan darahnya.”

Buru-buru Siau-si duduk bersila di bagian kepala Siang Ci-ing dan merentangkan sepasang tangannya ke atas, kemudian memeganginya kuat-kuat.

Siau-bun juga bergeser ke bawah dengan berjongkok di bagian belakang sambil menekan sepasang kakinya.
“Wah, tak nyana aku harus merepotkan banyak orang!” gumam Cau-ji sambil tertawa getir.
Habis berkata dia pun membebaskan totokan jalan darah tidurnya.

Terdengar Siang Ci-ing berseru lirih, lalu mulai menggerakkan keempat anggota badannya, beruntung dua bersaudara Suto sudah membuat persiapan hingga genggamannya tak sampai
terlepas.

Sekalipun tangan dan kakinya tak dapat bergerak, namun tubuhnya menggeliat ke sana kemari. Khususnya tubuh bagian bawahnya, terlihat lubang surganya ditonjol-tonjolkan ke atas seolah mulut kering yang menunggu datangnya air.

Melihat lubang surga si nona yang buka tutup seperti mulut orang yang tersengal-sengal, Cau-ji mulai terangsang napsu birahinya, darah serasa mengalir lebih cepat dalam tubuhnya.
Karena birahinya timbul, tombaknya pun ikut bangkit berdiri dan tegak mengeras.
Tubuh Siang Ci-ing menggeliat semakin keras, dengus napasnya pun semakin memburu.
Bila ada orang menyaksikan keadaannya saat itu, mereka pasti akan mengira Siang Ci-ing sebagai seorang wanita jalang yang amat cabul.

Lama kelamaan Siau-si tak tega juga, segera bisiknya, “Adik Cau, cepat masukkan milikmu ke
dalam lubangnya, kasihan dia.”
Cau-ji segera merentang sepasang kaki gadis itu lebar-lebar, lalu dengan tangannya dia merentangkan pintu gerbang di atas lubang itu, baru saja ujung tombaknya ditempelkan di atas
lubang itu, Siang Ci-ing bagaikan harimau kelaparan telah menerkamnya ke atas dan langsung
menelan tombak itu sepertiganya.
Cau-ji segera merasakan tombaknya menusuk liang kecil yang masih kencang dan sempit, untuk mendorongnya lebih ke dalam, dia mesti menggunakan tenaga tambahan.

Masih untung lubang milik Siang Ci-ing waktu itu sedang kelaparan hebat sehingga dia pun ikut membantu melahapnya secara rakus, tak lama kemudian seluruh tombak panjang itu sudah tertelan.

Tak kuasa lagi Cau-ji berpekik kenikmatan.
Ternyata ujung tombaknya sudah ditekan Siang Ci-ing hingga menyentuh dasar lubang, sentuhan itu membuat tubuhnya menggigil kenikmatan, itulah sebabnya dia pun berteriak kegirangan.

Siang Ci-ing seakan sama sekali tidak merasakan kesakitan, dia masih menggoyang tubuhnya dengan sepenuh tenaga.

Berhubung sudut ruangan yang tidak menguntungkan, Cau-ji merasa gerakan tubuhnya sangat terhambat, segera bisiknya, “Cici, biar dia saja yang berada di atas, mungkin jauh lebih leluasa
ketimbang aku yang menidurinya dari atas!”

Suto bersaudara mencoba membalik tubuh gadis itu, tapi tenaga yang dimiliki Siang Ci-ing waktu itu kuat sekali hingga mereka gagal membalik tubuhnya.

Tiba-tiba Cau-ji berbisik lagi, Pegangi saja badannya, biar aku yang membalikkan.”
Kemudian sambil memeluk tubuh gadis itu kuat-kuat, dia berguling ke samping dan mengangkat tubuh Siang Ci-ing yang semula berbaring di bawah menjadi mendudukinya di bagian atas.

Cau-ji tetap memegangi tangan gadis itu erat-erat, tapi membiarkan badannya bergoyang sekehendak hati.

Suara “plokk, plok” bunyi gencetan badan yang basah pun bergema tiada hentinya.
Dengan kehebatan tenaga dalam yang dimiliki mereka bertiga, biar berada dalam ruang gelap pun mereka dapat menyaksikan keadaan di seputar sana dengan jelas.

Mereka dapat menyaksikan juga darah perawan yang meleleh keluar dari lubang surga Siang Ci-ing berceceran ke mana-mana.

Suto bersaudara pernah merasakan juga bagaimana sakitnya ketika selaput perawan mereka terobek, melihat kegilaan Siang Ci-ing saat ini, mereka mulai menguatirkan keadaan si nona setelah sadar nanti, bagaimana mungkin bisa berjalan?

Waktu berlalu sangat cepat, pertempuran antara Cau-ji melawan Siang Ci-ing masih berlangsung dengan serunya.
Mendadak paras muka Cau-ji agak berubah, bisiknya lirih, “Cici! Ada orang datang!”
“Adik Cau, lanjutkan kerjamu, biar kami yang menengok keluar”
“Cici Si, keamanan nomor satu, yang penting keselamatan sendiri, berapa banyak yang bisa kalian hadapi, hadapi saja seperlunya, nanti biar Siaute yang bereskan sisanya.”
Siau-si mengangguk dan segera keluar dari gua bersama adiknya.

Author: 

Related Posts

Comments are closed.