Cerita Sex My HEROINE [by Arczre] – Part 41

Cerita Sex My HEROINE [by Arczre] – Part 41by on.Cerita Sex My HEROINE [by Arczre] – Part 41My HEROINE [by Arczre] – Part 41 BAB XX: HIDE AND SURVIVE #PoV Narator# Sembunyi. Itulah yang terlintas di pikiran Hana saat ini. Dia harus bersembunyi untuk sementara waktu sampai keadaan benar-benar aman. Tapi bersembunyi sambil merawat Ryu bukan persoalan yang mudah. Untunglah pengalaman Moon yang menjadi agen rahasia selama hidupnya telah banyak membantu. Hiro, […]

My HEROINE [by Arczre] – Part 41

BAB XX: HIDE AND SURVIVE

#PoV Narator#

Sembunyi. Itulah yang terlintas di pikiran Hana saat ini. Dia harus bersembunyi untuk sementara waktu sampai keadaan benar-benar aman. Tapi bersembunyi sambil merawat Ryu bukan persoalan yang mudah. Untunglah pengalaman Moon yang menjadi agen rahasia selama hidupnya telah banyak membantu. Hiro, Moon, Hana dan Ryu menempati sebuah rumah kosong di salah satu sudut kota. Ryu masih belum pulih sepenuhnya walaupun sudah sadar. Luka-lukanya sangat parah.

Moon memakai celana baggy, kaos dan kemeja kotak-kotak tampak sedang menjemur pakaian. Hiro pun membantunya. Mereka hidup low profile, mendapatkan rumah ini pun benar-benar sebuah keberuntungan. Keberuntungan, ya keberuntungan bisa mendapatkan tempat tinggal untuk bersembunyi dan bertahan hidup.

Sudah tiga hari semenjak terakhir kali Presiden RI mendeklarasikan dirinya sebagai pemimpin dunia. Berita-berita memberitakan bagaimana para Titan menghancurkan apa saja yang akan masuk ke negara ini. Mulai dari kapal, pesawat, tak ada satupun yang selamat. Bom Nuklir? Tentu saja terjadi perdebatan saat ini, terlebih ketika hari itu presiden Amerika melakukan teleconference dengan Presiden RI.

Amerika mengancam akan mengerahkan kekuatan militernya untuk menggempur Indonesia. Tapi Putra Nagarawan tidak takut. Ia juga telah mempersiapkan kejutan kalau seandainya Amerika jadi menyerang. Sementara itu wabah Flu Kelelawar sudah mulai masuk Amerika. Wabahnya pun sudah menyebar, dari Hawai, kemudian merembet ke Los Angeles, San Fansisco, Texas, Washington DC, New York, bergerak ke Kanada, ke Kuba, Ke Brazil, Ke Chili, Ke Mexico. Dunia benar-benar menjerit Flu Kelelawar telah mewabah di mana-mana, dan kerja virusnya lebih mematikan dari pertama kali kemunculannya di Afrika. Rusia pun ikut mengancam akan menembakkan peluru kendalinya kalau sampai Indonesia tidak memberikan anti virus itu kepada negaranya. Tapi Putra Nagarawan tidak takut. Ia menantang siapa saja untuk menembakkan peluru kendalinya dan ia akan memberikan kejutan dengan itu.

Terjadi keributan di Gedung DPR/MPR ketika Presiden memberikan pengumuman seperti itu kemarin. Putra Nagarawan pun dengan tenang memasuki gedung itu. Dia bahkan mengambil tempat di podium. Semua orang ribut dan protes terhadap apa yang dia lakukan. Tapi dengan tenang sang presiden memberikan pidatonya.

“Bisa diam? Saya ingin bicara,” kata Presiden.

“Anda bahkan tak pantas untuk bicara!” kata salah satu anggota DPR.

Putra Nagarawan mengangkat tangan kanannya seketika itu sebuah tiang bendera yang memang terbuat dari besi melayang. Semuanya keheranan, tak percaya terhadap apa yang mereka lihat. Tiang bendera itu tiba-tiba memutar-mutar, mengerut dan ujungnya berubah jadi runcing. Putra Nagarawan kemudian melemparkan tiang bendera itu ke arah anggota DPR itu.

JLEEB! Seketika itu sang anggota DPR tewas di tempat.

“Negara ini saya yakin menghargai orang berbicara. Saya tahu kalian tak suka saya bicara di depan podium ini. Tapi mohon kalian dengarkan saya bicara. Stasiun tv, silakan rekam. Saya beri kebebasan kepada kalian untuk menggiring opini, saya bebaskan. Ini negara kalian. Saya tak akan mengusik kehidupan kalian di negara ini. Apakah saya merampas hak suara kalian? Merampas tanah kalian? Merampas pekerjaan kalian?

“Saya justru dengan ini menyatakan tidak ada pajak lagi di negeri ini. Saya akan memberikan bantuan kepada daerah-daerah yang belum maju agar diberikan kemakmuran yang merata. Dan kalian semua jangan takut kepada para Titan. Mereka baik, aku bisa mengendalikan mereka. Mereka hanya akan menyakiti orang-orang yang membangkang kepadaku. Bekerjalah seperti biasa, anak-anak yang sekolah silakan sekolah, para orang tua yang bekerja silakan bekerja, kalian semua teruslah bekerja membangun negeri. Tapi mulai sekarang kita sendiri yang mengelola.

“Dengan ini saya juga membuat keputusan seluruh tenaga kerja asing silakan pulang ke negeri kalian masing-masing. Dan tak perlu takut, saya mengijinkan mereka untuk pulang ke negaranya masing-masing. Dan saya juga tak takut terhadap para mata-mata yang keluar masuk negara ini. Bagi saya hanya orang-orang bodoh yang berusaha melawan saya sekarang ini. Setiap hari jumlah Titan akan bertambah. Hingga benar-benar negara ini dijaga oleh Titan dari segala sudutnya. Aku memberikan kebebasan kepada kalian semua, untuk mencoba membunuhku. Tapi pikirkanlah baik-baik. Presiden mana yang memberikan kebebasan kepada penduduknya. Ambillah sumber daya alam kalian, ini negeri kalian! Kalian yang lebih berhak! Bukan orang asing yang memperkaya diri mereka di negeri kalian.

“Mulai hari ini juga para koruptor aku hukum mati, semua para tahanan aku hukum mati. Seluruh kekuatan militer sekarang berada di bawah kendaliku. Saya adalah Panglima Tertinggi, memberontak kepadaku? Silakan saja. Tapi jangan salahkan saya yang akan membuat pembalasan yang lebih kejam. Dan jangan terpengaruh oleh isu-isu yang tidak jelas bahwa saja akan membunuh orang dengan sembarangan, menghabisi mereka secara sembarangan. Tidak, saya hanya akan melenyapkan orang yang menghalangi tujuan saya. Itu saja. Sekarang, coba dipikir. Apakah ada presiden seperti saya yang memberikan kebebasan kepada penduduknya untuk mengambil negaranya sendiri? Saya Putra Nagarawan, dengan ini meresmikan diri menjadi pemimpin dunia.”

Tak ada yang bersuara di ruangan itu. Hening. Putra Nagarawan memberikan senyumannya dan melambai. Langkahnya mantab. Dia meninggalkan gedung itu dan setelah itu ruangan gaduh. Stasiun tv kalang kabut menyiarkan berita. Beberapa kedubes pun meninggalkan Indonesia. Travel warning diumumkan di mana-mana. Dalam satu hari Indonesia tiba-tiba menjadi negara super power. Tak ada yang pernah menyangka sebelumnya. Hanya menunggu waktu saja, ketika satu per satu negara di dunia mulai menyerahkan diri.

Ketika keluar gedung, salah seorang sniper sudah membidik putra nagarawan. Sniper itu pun menembak, tapi Putra Nagarawan mengangkat tangannya, seketika itu laras dari senapan sniper itu melengkung menyebabkan peluru tak bisa ditembak malah meledak di senjata sang sniper. Dia menoleh ke arah sang sniper. Sang sniper terbelalak, ia tak percaya. Putra Nagarawan menjentikan jarinya, laras sniper itu berubah menjadi runcing dan menacap sendiri ke kepala sang sniper.

Hana melihat siaran di tv lagi. Ia tak pernah percaya melihat keadaan negara yang sangat kacau seperti ini.

“Presidenmu ngeri yah,” kata Ryu.

“Iya,” Hana setuju. “Bagaimana keadaanmu, Ryu-kun?”

“Masih sakit semua. Kekuatan Jinomu Ekusu rlluar biasa,” jawab Ryu.

Ponsel Hana berbunyi. Nomor tidak dikenal?? Dia menduga-duga siapa yang menelpon dirinya. Hana kemudian mengangkat teleponnya.

“Halo?” sapa Hana.

“Hana, ini aku Han Jeong, kamu bagaimana?” terdengar suara Han Jeong.

“Oh, Jung. Aduuuuhhh,…tiga hari kemana aja?” tanya Hana.

“Sorry, sorry. Kita istirahat dulu setelah pertempuran terakhir. Aku sekarang bersama Yuda, kami baik-baik saja. Oh iya, papamu sudah menyelamatkan diri beserta Profesor Andy. Mereka sudah menghubungimu?”

“Belum, syukurlah kalau begitu. Tapi, aku masih khawatir dengan keadaan mereka. Sampai sekarang mereka belum menghubungiku.”

“Semoga mereka baik-baik saja. mamamu ada bersama mereka. Dia kan mantan intelejen, pasti tak akan kenapa-napa.”

“Yaa…nilai plusnya itu sih.”

“Bagaimana keadaan Ryu?”

“Dia masih dalam penyembuhan. Pacarmu menghajar dia habis-habisan.”

“Hehehehe, maaf ya.”

“Eh? Emang bisa beltmu jadi ponsel?” terdengar sebuah suara di ponsel Hana.

“Heh? Itu Yuda?” Hana penasaran.

“Iya, udah ya. Nanti kabar-kabar lagi.”

“Sebentar, sebentar, kalian cuma berdua?”

“Iya”

“Di kamar?”

“Iya”

“Kalian telah melakukan itu?”

“Hmmm..”

“Han Jeong? Gila lu ya”

“Hihihi, udah ah.”

“Eh, tunggu dulu!”

“Kenapa?”

“Setelah ini kalian mau ngapain?”

“Hmm…nggak tahu, kemungkinan besar kami ingin menyelamatkan para superhero yang ditangkap. Tak mungkin dong melawan pemerintahan kita sendiri seorang diri. Gila apa?”

“Hmm..benar.”

“Kamu gimana dengan Ryu??”

“Gimana apanya?”

“Ayolah, kalian kan bersama beberapa waktu ini, pasti ada cerita menarik.”

“Nggak ada.”

“Bohong, udahlah Na. Kita itu udah seperti saudara, kamu pasti ada rasa sama Ryu-kun kan?”

“Iya deh, iyaaaaa…tapi aku nggak sejauh kamu. Weekk…!”

“Yah, siapa tahu. Aku benar-benar mencintai Yuda koq. Aku akan lakukan apapun untuknya.”

“Kalau mamamu tahu gimana?”

“Rahasiain dong! Tapi Yuda mau tanggung jawab koq.”

“Yeee, padahal dia baru saja deket sama Brooke.”

“Brooke gimana? Setelah kejadian itu?”

“Entahlah, aku panik ama keadaan Ryu yang penuh luka. Nggak sempat kembali ke sana, polisi dan tentara ada di mana-mana. Sekarang saja, pertempuran bisa terjadi di mana-mana. Tiba-tiba di tengah jalan ada bom meledak itu sudah biasa. Terlebih lagi terjadi anarkisme di mana-mana, penjarahan bahkan sekarang polisi tak ada nilainya lagi di mata masyarakat.”

“Kacau banget.”

“Emang.”

“Ya udah deh. Aku tinggal dulu, sampai nanti. Salam buat mama ya?!”

“Oke, nanti aku sampaikan.”

Han Jeong pun memutus line teleponnya. Hana menghela nafas. Baginya sekarang kesehatan Ryu adalah yang nomor satu. Selama Ryu belum pulih benar ia harus merawatnya.

Moon masuk ke dalam rumah. “Telepon dari siapa?”

“Dari Han Jeong,” jawab Hana.

“Berarti dia baik-baik saja ya?”

“Iya tante.”

“Syukurlah kalau begitu. Bagaimana keadaanmu, Ryu?”

“Masih sakit semua”

“Kita sekarang hanya berharap kepada Han Jeong dan Yuda,” Moon menghela nafas panjang. “Semoga mereka bisa mengatasi keadaan ini. Sudah ada kabar dari papamu?”

Hana menggeleng.

“Semoga mereka baik-baik saja,” kata Moon.

*******~o~********

Apa yang terjadi setelah Putra Nagarawan berkuasa? Kegelapan. Kekuatan militer mulai memberontak, namun bersamaan itu ribuan robot-robot berbagai bentuk, senjata mesin, byonics, semuanya keluar. Robot-robot militer pun tiba-tiba ada begitu saja, mereka keluar dari segala penjuru negeri, menegakkan keadilan sesuai dengan keadilan yang digagas oleh Presiden Putra Nagarawan. Semuanya dalam kendali dia.

Tak hanya itu setiap propinsi pun kini ada bawahan-bawahannya yang mengawasi. Mereka kebanyakan android atau pun cyborg. Dalam semalam produksi robot tiba-tiba seperti buih di lautan. Mereka menguasai jalan-jalan melumpuhkan setiap aksi militer yang ingin memberontak kepada pemerintahan yang sekarang. Gedung MPR/DPR pun dalam satu hari telah dikuasai. Kantong-kantong militer yang tidak patuh pun tiba-tiba dihancurkan begitu saja. Indonesia di dalam kegelapan hanya dalam waktu singkat.

Han Jeong dan Yuda melanjutkan perjalanan mereka dengan jalan kaki. Adalah menghabiskan tenaga kalau mereka langsung terbang sampai ke Nusa Kambangan untuk masuk ke Penjara Besi. Mereka harus simpan tenaga mereka dan mengumpulkan kekuatan. Maka dari itulah perjalanan kali ini ditempuh dengan jalan kaki ataupun menumpang kendaraan. Mereka juga menghindari konfrontasi sebisanya. Karena tentu saja pasukan robot ada di mana-mana.

Apakah nasib dunia hanya sampai di sini? Bagaimana dua orang kekasih ini bisa menyelamatkan dunia?

Sementara itu Rina Takeda bersama pamannya, Shotaro. Mereka sedang dalam pembicaraan serius. Gedung Konsulat pun sepi, keadaan mencekam.

“Oji-san, apa yang harus kita lakukan sekarang?” tanya Rina.

“Aku sudah mengabarkan hal ini kepada para petinggi Akai Kage. Mereka akan kemari. Tapi tentunya dengan perjuangan yang tidak mudah, karena kamu tahu sendiri monster-monster laut itu akan menghalangi setiap kapal dan pesawat yang masuk ke negara ini. Carilah Ryu!” kata Shotaro

“Ryu-kun?”

“Iya, kalian harus bersatu. Satu-satunya yang bisa kita lakukan adalah membunuh presiden negara ini, dan biarkan rakyat membangun negara ini lagi. Ini sudah tidak benar. Negara ini menyegel seluruh aset kita, juga aset negara lain yang ada di sini, menyebarkan virus kemana-mana. Dan anti virusnya dijadikan sebuah harga yang mahal untuk kebebasan. Ini namanya konyol.”

“Aku akan mencari Ryu. Tapi bagaimana? Aku tak tahu di mana dia sekarang.”

“Jangan khawatir, CCC telah menghubungiku untuk memberikan poin GPS dari Ryu. Dia akan terlacak dengan ini,” Shotaro menyerahkan sebuah GPS Tracker. Tampak di layar benda berbentuk kotak pipih itu menyala sebuah titik berwarna merah.

“Ini…posisi Ryu?”

“Iya, segera temui dia. Dan Rina…”

“Iya, Oji-san?”

“Aku tahu ini sulit tapi, misimu kali ini membunuh orang, bukan melindunginya. Lawanmu kali ini bukan orang biasa.”

“Wakarimasu Oji-san. Itekimas.”

“Itterrasai”

********~o~*********

“Amerika dan Russia sudah mengarahkan rudalnya ke arah kita,” kata Astarot.

“Aku tahu,” kata Putra Nagarawan.

Mereka berdua berada di sebuah ruangan besar. Tampak para pekerja bekerja di meja masing-masing dengan wajah serius. Putra Nagarawan duduk di tengah ruangan, di atas kursi yang sangat empuk. Tak ada wajah takut atau khawatir pada diri Sang Presiden. Dengan tenang ia berdiri dari kursinya.

“Ada siaran langsung dari tv Amerika,” kata salah seorang pegawainya.

Semuanya langsung mengarah ke sebuah layar tv. Ada wajah presiden Amerika sedang memberikan pidato.

“Saya ada di sini dalam sebuah waktu yang berat. Di saat kekuatan kami tak bisa melakukan apa-apa terhadap serangan yang telah dilakukan oleh negara yang berada di Asia Tenggara. Kami sangat menyesali bahwa kami yang punya militer terkuat di dunia malah sampai sekarang tidak bisa menembus pertahanan mereka. Dan kami punya satu solusi, kami akan menembakkan peluru kendali ke arah Jakarta. Dan kami mohon maaf atas apa yang kami lakukan, tapi ini adalah cara terakhir kami. Kami akan menembakkan rudal nuklir kami ke Indonesia. Ini pun juga dilakukan oleh Rusia…..”

Putra Nagarawan segera mematikan siaran itu. Tampk dia tersenyum dengan sinis. Dia pun berdiri dari tempat duduknya.

“Tampilkan radar nuklirnya! Aku ingin melihat,” kata Putra Nagarawan. “Hack sistem siaran tv mereka, aku ingin bicara secara langsung. Siapkan kamera!”

Kamera telah disiapkan. Putra Nagarawan berdiri di depannya. Seketika itu seluruh siaran stasiun tv di Amerika dan Rusia berganti siaran, dan sosok wajah Presiden Putra Nagarawan tiba-tiba tampil di sana. Presiden Amerika dan Presiden Rusia terkejut.

“Selamat siang para petinggi negara. Saya tahu Anda semua ingin menyerang negara kami dengan rudal balistik. Tapi perlu saya peringatkan, jangan lakukan itu. Anda tak tahu seberapa besar kekuatan kami yang sesungguhnya. Saya bisa membuat bom itu meledak sebelum kalian luncurkan. Anda ingin mencoba?” tantang Presiden Nagarawan.

Ajudan Presiden Amerika langsung bicara ke presidennya. “Dia hanya menggertak, tak akan ada orang yang bisa menghack sistem kita.”

“Iya, kamu benar,” kata Presiden Amerika.

“Please Mr. President, don’t do this,” kata Putra Nagarawan di televisi.

“I’m sorry my people,” kata Presiden Amerika. Dia menekan sebuah tombol pada sebuah kopor yang mana itu adalah kendali dari sebuah peluru kendali nuklir. Presiden Amerika mengucapkan passwordnya, “Alpha Golf One Five Beta Seven Seven Seven”

Di layar kendalinya tampak peringatan bahwa nuklir telah diluncurkan.

“Mr. President, with this I announced you. Washington DC will erased from the world!” ujar Putra Nagarawan.

Putra Nagarawan segera keluar dari gedung. Langkahnya diperpanjang dan lebar. Beberapa menit kemudian dia sudah berada di luar gedung. Putra Nagarawan mengeluarkan kekuatan elementalnya. Tangannya mengeluarkan kabut berwarna hitam. Dia membuka tangannya dan seolah-olah tangannya bisa menjangkau sesuatu yang jauh. Seketika itu beberapa elemen besi segera melayang menuju ke arahnya lalu membentuk sebuah platform untuknya. Putra Nagarawan pun berdiri di atasnya. Dengan cepat dia pun melayang di udara.

Tak butuh waktu lama untuk dia segera terbang melesat menuju ke arah di mana bom nuklir itu akan menghantamnya.

“Astarot, berikan koordinatnya!” kata Putra Nagarawan sambil menekan codec yang ada di telinganya.

“Arahmu sudah benar,” kata Astarot di alat komunikasi.

Tak berapa lama kemudian Putra Nagarawan melihat bom yang didorong oleh kekuatan roket itu. Dia berdiri di atas platform besinya sambil seolah-olah mencengkram sesuatu. Roket rudal itu pun mati dan rudal itu seolah-olah melayang di udara begitu saja.

Tentu saja Presiden Amerika kebingungan melihat hal ini. Bagaimana mungkin roket itu bisa mati padahal belum sampai ke tujuannya. Putra Nagarawan mendekat ke arah roket yang melayang di udara itu.

“Kembalilah, meledaklah di Washington DC!” perintah Putra Nagarawan.

Tiba-tiba rudal itu berbalik arah, kemudian tanpa roket segera rudal itu melesat menjauh dengan kecepatan yang luar biasa. Presiden Amerika seolah-olah tak percaya kepada apa yang telah ia lihat. Matanya terbelalak.

“Bagaimana? Apa yang terjadi?” tanya Presiden Amerika. “Apa yang sedang terjadi sebenarnya?”

“Presiden, kita harus pergi. Kita harus mengungsi!” kata ajudannya.

“Bagaimana kita harus mengungsi sedangkan penduduk Washington DC masih ada di sini!” kata Presiden.

“Kita tak punya waktu lagi!”

Akhirnya Presiden pun segera berlari bersama para pengawalnya. Namun rudal itu melesat lebih cepat hingga dalam waktu kurang dari limat menit rudal itu sudah sampai di langit Washington DC. Presiden Amerika sudah berada di dalam bungker yang katanya tahan terhadap bom nuklir, namun yang terjadi adalah bom itu jatuh tepat di atasnya. Menembus ke ruang bungker dan semua orang di dalam ruangan itu tentu saja terkejut. Apalagi elemen besi yang ada di dalam bom itu membentuk diri mereka sendiri seperti mata bor menjebol bungker hingga ke bawah tanah.

“Oh no….”

BUUUMMMMM! BLLLLAAAAASSSSSTTTT

Dalam sekejap awan cendana terbentuk dan ledakannya sampai menggetarkan seluruh benua Amerika. Dengan ini Presiden Amerika serikat tewas berikut juga seluruh penduduk kota Washington DC. Radiasi nuklirnya pun menyebar ke seluruh penjuru Amerika. Dunia pun prihatin akan hal ini. Rusia yang mengetahui hal ini pun mengurungkan niatnya untuk menyerang Indonesia.

Putra Nagarawan kembali mendarat di depan istana negara. Dia kemudian masuk lagi ke dalam ruangan dan langsung berdiri di depan kamera. Kata-kata berikutnya benar-benar merupakan bentuk tantangannya kepada seluruh dunia.

“Jadi, masih ingin menyerang negara kami? Bagaimana kalau kita bicara masalah bisnis saja daripada harus saling baku hantam? Presiden Snikov?” kata Putra Nagarawan dengan senyum sinis.

Sementara itu Yuda dan Han Jeong yang menyaksikan sebuah berita tentang meledaknya bom nuklir di Amerika dan mereka tercengang. Mereka berdua tak menyangka musuh mereka benar-benar kuat. Siapa sebenarnya Putra Nagarawan.

“Bagaimana dia bisa melakukannya?” gumam Yuda.

“Musuh kita kali ini mengerikan,” kata Han Jeong.

“Sayangku, kita bagi tugas,” kata Yuda.

“Eh? Bagi tugas?”

“Iya, aku akan menyelamatkan para tahanan di Penjara Besi. Sementara itu, kamu cari sekutu, cari para pemberontak dari kalangan militer maupun masyarakat. Mereka hanya akan percaya kepada Black Knight yang telah menolong mereka, bukan aku. Lagi pula engkau adalah My Heroine.”

Han Jeong tersenyum. Dia memeluk Yuda, “Tapi aku takut Yud, kalau berpisah lagi denganmu.”

“Tidak, kita tidak berpisah koq. Kita berdua Bad-ass Superhero Couple di negeri ini tak akan terpisahkan. Dan…aku yakin mereka akan percaya kepadamu,” kata Yuda sambil mengusap rambut Han Jeong.

“Oke, hati-hati ya,” kata Han Jeong.

Mereka berdua kemudian berciuman lagi. Ciuman perpisahan? Semoga tidak. Tapi mereka berdua tahu bahaya yang akan menghadang mereka nanti seperti apa. Han Jeong mengacak-acak rambut Yuda. Sebelum mereka berdua pergi Yuda memeluk erat Han Jeong untuk terakhir kalinya. Dia menunjukkan tinjunya dan mereka berdua tos.

“We are Bad-ass Superhero Couple,” kata Han Jeong. “I like it.”

“Hati-hati sayangku”

“Kamu juga”

*******~o~*******

Sementara itu jauh dari tempat mereka sekarang berada. Ray tampak terbaring di tempat tidurnya. Agaknya ia terlalu berlebihan menggunakan kekuatannya sebagai seorang Creator. Dia melihat berita di tv. Matanya terpejam, ia ingat kepada beberapa tahun yang lalu ketika seorang pemuda datang kepadanya.

“Paman Ray?” sapa pemuda itu.

Ray yang saat itu masih sibuk dengan pekerjaannya sebagai seorang kontraktor terkejut tentu saja. Mereka bertemu di sebuah proyek lapangan, ketika Ray sedang menjadi mandor proyek. Seorang pemuda rambutnya lurus, memakai t-shirt, agak kumal, bercelana jins menemuinya disaat kesibukannya.

“Siapa?” tanya Ray.

“Aku cucu dari Thomas,” jawabnya. “Namaku Putra Nagarawan.”

“Thomas…?”

“Iya, Anda pasti tahu bukan? Ibuku selalu bicara mengenai Thomas van Bosch. Dia adalah kakekku. Ibu bilang hanya paman yang sekarang bisa menolongku. Aku….aku tak bisa mengendalikan kekuatanku,” kata Putra Nagarawan.

“Tidak mungkin, kamu….?”

“Iya, aku seorang Destroyer.”

“Pergilah!”

“Tapi…paman!?”

“Aku tak bisa mengajarimu, aku seorang Creator. Belajarlah kepada seorang Mist, carilah Yuki seorang Mist. Belajarlah kepadanya!”

“Tapi kenapa paman tidak bisa?”

“Kamu sendiri tahu alasannya.”

Putra Nagarawan menghela nafas. “Karena paman yang telah membunuh kakek?”

Ray tidak menjawab.

“Baiklah, aku akan pergi. Maaf, tapi aku bukan orang yang seperti kakekku. Aku akan cari Yuki, seperti yang paman perintahkan. Selamat tinggal,” Putra pamit kemudian berbalik pergi meninggalkan Ray.

Saat itulah Ray menyadari keputusannya yang tidak tepat ini berdampak kehancuran bagi dunia. Ray memejamkan mata, dia sangat menyesal, sangat menyesal. Seharusnya dia dulu menerima saja Putra Nagarawan menjadi muridnya, toh Michele telah mengajarkan semuanya kepada dirinya. Tapi kini apakah sudah terlambat untuk itu?

End of Act 2

Author: 

Related Posts

Comments are closed.