Cerita Sex Hope ESCAPE – Part 2

Cerita Sex Hope ESCAPE – Part 2by on.Cerita Sex Hope ESCAPE – Part 2Hope – Part 2 Hope BAB 1 ESCAPE Perjalanan Tomi sudah dimulai. Tak butuh waktu lama hingga kabar mengenai kebakaran yang terjadi di rumahnya tersiar di TV. Ia mendengar sekilas siaran itu ketika sedang duduk menanti kedatangan kereta yang akan membawanya pergi menjauh. Ia kini sedang berada di dalam gerbong kereta yang melaju. Tomi membeli […]

Hope – Part 2

Hope
BAB 1
ESCAPE

Perjalanan Tomi sudah dimulai.
Tak butuh waktu lama hingga kabar mengenai kebakaran yang terjadi di rumahnya tersiar di TV. Ia mendengar sekilas siaran itu ketika sedang duduk menanti kedatangan kereta yang akan membawanya pergi menjauh.

Ia kini sedang berada di dalam gerbong kereta yang melaju.
Tomi membeli tiket ke tujuan paling jauh yang dapat ia temukan di stasiun terdekat.

Dalam hatinya ia senang, dapat membalaskan dendam kepada orang yang sudah membunuh ayahandanya tercinta. Namun kenjataan bahwa ia tak mengetahui dimana ayahnya dimakamkan membuatnya gundah.

Ia menghela napas panjang. Naya pasti udah ngurus semuanya pikirnya.
Satu persatu stasiun ia lewati menjauhi ibukota. Ruang gerbong yang tadinya sesak dijejali ratusan orang, kini perlahan mulai lengang. Hanya beberapa orang yang terlihat bersamanya di gerbong itu. seorang pedagang buah yang tertidur, pekerja kantoran, dan yang lain sepertinya anak kuliahan.

Ia melongok keluar jendela, mencoba mengusir rasa bosan.
Pemandangan lahan persawahan yang baru ditanami padi menyejukkan matanya sesaat. Lokomotif kereta berwarna putih itu terlihat diujung rangkaian. Mengepulkan asap putih yang membumbung diiringi bunyi menderu.

Enam jam berlalu. Ia kini menjejakkan langkah pertamanya di stasiun tempat kereta itu berhenti. Entah dimana ia sekarang, ia sama sekali tak mengetahui apapun tentang kota tempatnya berpijak.

Ia sudah mematikan telepon selulernya. Menghindari kemungkinan jika polisi melacak signal.
moga-moga Naya baik-baik aja… kalimat itu entah sudah berapa kali melintas di pikirannya.

Tak banyak uangnya yang tersisa, sepertinya ia harus berusaha keras untuk menghidupi dirinya selama dalam pelarian ini.
heeeeehhh…. ia menghela nafas panjang.
oke…. harus kemana sekarang? batinnya berbicara.

Tak punya arah tujuan, ia tak boleh menampakkan diri di depan orang yang ia kenal. Terlalu beresiko jika sampai keberadaanya diketahui, walaupun oleh saudaranya sekalipun.

Karena itulah ia memilih kota ini sebagai tempatnya melarikan diri. Alih-alih ada yang mengenalnya, seingatnya ia tak mempunyai saudara maupun teman di kota ini.

kruyuuuukkkk……
Perutnya mulai meronta, menagih makanan.

Tomi memegang perutnya sesaat dengan tangan kirinya. Sepertinya makan adalah pilihan yang bagus. Ia telah menetapkan pilihan.

Tak sulit menemukan tempat makan di daerah stasiun tersebut. Namun mengingat uang yang dimilikinya sangat terbatas, maka mau tak mau ia harus berusaha hidup sangat-sangat sederhana.

Tak mudah memang bagi seorang anak muda seperti Tomi, yang terbiasa hidup bergelimang harta, yang setiap kebutuhannya pasti ada yang melayani. Kini ia harus berjuang sendiri, syukurlah ia bukan typikal anak yang manja. Sedikit banyak ia tau bagaimana harus bertahan hidup.

Ia melangkahkan kakinya menuju warung nasi terdekat.
ramai juga… mungkin harganya murah pikirnya. Ia segera masuk kedalam.

makan mas?? tanya seorang ibu.
iya bu…. pakai telor dadar sama sayur aja bu, minumnya air putih… jawab Tomi.

Tak lama hidangan yang ia pesan kini tersaji di piring putih yang ia terima dari ibu penjaga warung.

fuuuhhh…. sabar-sabar…. emang uda takdirnya begini kok…. gumam Tomi dalam hati.
Ia mulai menyendok makanan itu. Terasa sedikit hambar dilidahnya, mungkin karena ia belum pernah makan sesederhana itu.
anak kuliahan ya mas?? pertanyaan sang ibu penjaga warung mengagetkan lamunannya.
hah?
pesanannya Cuma telor dadar sih… pasti mahasiswa ya?
ohhh… iya bu..
kuliah dimana?
eeehhmmm…… Tomi sedikit gugup menjawab pertanyaan itu, mengingat ia tak tau apa-apa tentang kota itu.
saya…. masih nyari-nyari bu…. ini hari pertama saya di sini, perantauan….
ohhh…. sebelumnya tinggal dimana?
ahahaa… jauh bu dari sini…. enam jam naik kereta…
ooo…. kok bisa-bisanya nyasar kesini…. orang tuamu tau?
ngak tau bu… orang tua saya udah ngak ada… karena di tempat asal saya biaya hidup mahal, ya saya putuskan pindah…. nyoba-nyoba cari rejeki…
trus.. disini tinggal dimana?

Tomi hanya menggelengkan kepala sambil mengunyah makananya.
belom tau bu…. saya ga punya uang….
ya allah dek….. kok nekat sekali….
namanya juga merantau bu, musti nekat, kalo ngak gak bisa makan…
udah dapet kerja?
Tomi menggeleng.

Ibu penjaga warung juga ikut menggelengkan kepalanya.
dasar anak muda jaman sekarang… nekat semua…. kamu lulusan apa?
sarjana teknik bu… S1……
waduh…. pendidikannya udah tinggi to…. trus kenapa mau kuliah lagi

siall……….. salah ngomong gua…… batin Tomi.
yah…. kali aja bisa ngejar S2 bu… siapa tau masa depan saya jadi lebih terjamin…
ck ck ck….. yawdah habisin dulu makananmu….

Sang ibu penjaga warung itu meraih telepon genggamnya.
mase…. jek enek lowongan pora? Iki ono cah perantau golek kerjo….. ucapnya lewat telepon.
Tomi tak mengerti apa yang dibicarakannya, ia terus menyendoki nasi yang tinggal separuh di piringnya itu.
S1 teknik jare…piye
lha kok bawa2-bawa S1? Tomi mulai penasaran.
yowes tak kandani…..

Ibu penjaga warung itu menyudahi percakapannya di telepon.
dek…. kamu beneran sarjana teknik?
Tomi mengangguk.
gini dek…. suami ibu kan punya bengkel.. yahh bukan bengkel gede si.. kamu mau gak kerja disana?
ahh serius bu?
yo serius…. masak bercanda…..

Tomi terdiam sejenak. Tawaran dari ibu itu sungguh menggiurkan, namun ia khawatir jika ia bekerja maka ia harus tinggal menetap. Itu bukanlah misinya.

Misinya saat ini adalah menghilangkan jejak. Tidak boleh ada informasi, tidak boleh ada bekas.
bu… maaf ini sebelumnya, ibu kan baru kenal saya…. saya takutnya mengecewakan.. makasih banyak bu tawarannya, saya pikir-pikir dulu….
jadi anak muda itu ndak boleh mikir terlalu panjang dek… jaman saiki cari duit susah…. ya gak apa-apa sih dek… pesen ibu, kamu jangan nunda-nunda… kalok udah yakin, udah mantep…. kamu dateng lagi kesini….
Tomi tersenyum dan mengangguk.

Tuhan memang tak pernah tidur.
Ia akan selalu mengawasi setiap insan di dunia ini. Memberi karunia bagi dia yang baik dan memberi ganjaran bagi ia yang jahat.

tapi gue ini udah jadi pembunuh…. emang pantes gue dapat belas kasihan dari tuhan?
Tomi sedang mengutuki dirinya sendiri saat ini. Menjadi pembunuh memang merupakan pilihannya beberapa hari lalu. Dan kini ia harus siap menerima resiko akan ganjaran apapun yang akan ia terima.

Seusai makan ia kembali berjalan, menyusuri jalan-jalan di kota baru itu.
Cukup jauh ia berjalan. Ia kini tergoda untuk menelepon kakaknya Naya. Menanyakan tentang kabar kakaknya tercinta. Namun ia cukup dapat mengontrol diri untuk mengabaikan hasratnya itu.

Langit kini mendung. Cuaca mulai berubah tidak bersahabat.
Rintik hujan mulai turun, membasahi jalan-jalan yang ia lalui.

Ia berteduh disebuah pelataran toko buku. Ia berjongkok sejenak melepaskan rasa lelah yang diderita kedua kakinya. Butir-butir air yang jatuh itu terciprat tak tentu arah.
Debu-debu yang tadinya beterbangan kini telah melekat di tanah. Udara berubah menjadi sejuk.

sekarang gue mesti tidur dimana dong….. pikirnya.
Pertanyaan mendasar bagi seorang pelarian seperti dirinya.

Hujan kembali reda, jam tangan yang dikenakannya kini menunjukkan pukul empat sore. Ia harus cepat menemukan tempat bermalam.

tapi dimana..?? aduh kakak…. sengsara banget hidup gue sekarang….
Kenyataan kontras itu harus ia telan bulat-bulat. Menyadari bahwa kakaknya kini sedang berada di kamar hotel yang nyaman dengan segala fasilitas. Sedangkan dirinya harus hidup dalam pelarian, dengan uang yang terbatas, tanpa bekal, tanpa tempat tinggal.

Sesungguhnya Tomi masih memiliki banyak uang di rekening tabunganya, mungkin cukup untuk membeli rumah di daerah pinggiran kota. Namun apa daya, jika ia mengambil uangnya polisi akan tau dimana ia berada dan tak lama ia akan segera ditangkap.

Membayangkan menerima vonis 10 tahun penjara sudah cukup membuat Tomi gentar. Kartu ATM berwarna kuning itu tetap terselip rapi tak tersentuh di dalam dompetnya.

Ia kembali menyusuri jalan-jalan becek, mencari tempat bermalam.
Menginap di penginapan saat ini bukanlah sebuah pilihan yang pintar, itu akan menghabiskan banyak uang. Jika ia memaksakan diri, maka ia hanya akan mampu bertahan hidup dalam jangka waktu empat hari saja. Pilihan yang sulit.

Satu jam sudah ia berjalan, kini jam tangannya menunjukkan pukul lima sore.
Matahari sudah sangat condong ke ufuk barat, menandakan sebentar lagi akan kembali ke peraduannya. Langit sore berwarna jingga temaram itu menemani langkahnya.

Akhirnya ia berhenti berjalan setelah sekian lama.
Ia kini duduk termenung di bawah jembatan penyebrangan. Tomi mengambil tempat duduk dibawah anak tangga menuju ke atas, berpaling sejenak dari dunia ini, mencari kesendirian.

Ia memutuskan untuk bermalam di tempat itu malam ini.

Hari berganti malam. Jalan-jalan yang tadinya ramai kini berubah hening. Tak banyak lagi orang melintas, hanya sesekali saja ia melihat siluet lampu mobil yang melaju di jalan raya.
Bunyi jangkrik terdengar di sana sini. Membuat pikirannya yang kalut sedikit teduh.

Tempat ini berbeda sekali dengan kota tempat tinggalnya dulu.
Ia masih bisa mengingat jelas, di kota tempat tinggalnya dahulu saat seperti ini tak ada bedanya dengan siang hari. Banyak sekali orang berlalu lalang.

Kantuk mulai menyerangnya. Rasa lelah yang menumpuk kini telah menjalar dalam aliran darahnya. Matanya mulai sayu, kelopak mata itu terasa begitu berat.

Ia duduk meringkuk sambil memeluk tas hitamnya untuk menghangatkan diri.
Matanya kini terpejam.

WOOOYY…. BANGUN……….
Teriakan itu memekakkan telinganya. Sesaat kemudian ia merasa lengannya ditarik untuk dipaksa berdiri.

Tomi mengejapkan matanya, berusaha mencerna apa yang ia lihat.
Berdiri disana, dua orang pemuda bertampang sangar dengan setelan khas anak punk.

ANAK MANA LOO…..
ada apaan nih bang??
BANYAK TANYA LO… JAWAB PERTANYAAN GUA… ANAK MANA LOO…..

halaaahhh… ni anak punk pake acara cari gara-gara sama gua….. bangsat.. batinnya.
Ia menatap tajam kearah mata pemuda yang berbicara dengannya.

apa urusannya sama lo?
Tiba-tiba sebuah tangan mendorong kepalanya dari belakang. Tomi yang belum juga terbebas dari rasa kantuk hampir saja jatuh terhuyung ke depan.
Tubuhnya yang terhuyung ditangkap oleh tangan-tangan kasar yang kini mencengkeram bahunya.
OOOHHH……….. pemuda yang mencengkeramnya berbicara.
jadi lu mau cari gara-gara sama gua?…..LOO GA TAU GUA INI SIAPA????

idih… ada gitu ya orang tolol kayak gini… yang cari gara-gara itu kan dia…. trus, dia pikir dirinya selebritis yang dikenal semua orang… cuih…. batin Tomi.
gua ga ada urusan sama lu pada…. lepasin sekarang atau…

ATAU APAA???????? LO MAU KITA HAJAR…….. pemuda yang mencengkeram bahunya kembali berteriak.
udah lah bos… kita abisin aja sekarang….. pemuda yang satu lagi berbicara.

Tomi belum sempat melihat wajah pemuda yang satu lagi karena ia berdiri membelakangi pemuda itu.
mana dompet lu? Kasi ke gua……. pemuda di depan Tomi berbicara.

Tomi menepis kedua tangan yang mencengkeramnya itu kuat-kuat. Kini tubuhnya sudah bebas.
coba aja ambil dari gua kalo lo bisa…. ucap Tomi.
BANGSATTTTTTTT……..

Sebuah pukulan melesat ke arah wajah Tomi. Keadaan seperti ini sudah berulang kali ia alami dalam pertandingan karate. Dengan mudah ia mengelak ke kanan.
Dengan tangan kirinya Tomi mencengkeram pergelangan tangan yang melesat ke arah wajahnya, lalu dengan tangan kanannya yang sudah terkepal ia meninju wajah pemuda itu tepat di pelipisnya.

Duuuugg….
Hantaman itu tepat bersarang di wajah pemuda yang sekoyong-koyong terhuyung dan tersungkur di tanah.

ANJIIINGGG…… pemuda di belakangnya mengumpat dan melayangkan pukulan hook kearah kepala Tomi.

Hampir saja Tomi telak terkena, karena pukulan itu dilancarkan dari titik buta matanya.
Namun refleksnya cukup baik. Ia menghindar dengan menundukkan tubuhnya.

Kepalan itu melintas di atas kepalanya.
Kini dengan tangan kanan Tomi, ia memukul perut pemuda itu keras-keras.

Aaaaaaakkkhh….. pemuda itu memekik ketika tubuhnya terlonjak beberapa senti ke udara.
Sekali lagi Tomi melancarkan tinjunya yang kini tepat bersarang di rahang bawah pemuda itu.

Buuuuggghh….
Pemuda itu jatuh terjengkang. Memegangi rahangnya yang terasa berdenyut-denyut.

Pemuda yang pertama jatuh kini sudah kembali berdiri. Ia mengeluarkan sebilah pisau kecil dari pinggangnya. Pisau kecil itu mulai ia sabetkan.

Tomi mengelak dengan memundurkan tubuhnya satu langkah.
Jarak antara ia dan lawannya kini terlalu jauh untuk ia jangkau dengan kepalan tangannya.

Tomi mengambil kuda-kuda untuk mulai menyerang. Kali ini kakinya melesat cepat melewati lengan pemuda yang menggengam pisau itu.

Duuuggghhhh……
Tendangan itu tepat mengenai wajah pemuda itu. mematahkan hidungnya.
Pemuda itu meringis kesakitan sambil memegang wajahnya yang berlumuran darah.

Pisau kecil itu terjatuh dari tangannya. Tomi segera memungutnya dan berlari menjauh meninggalkan kedua preman kampung yang kini terkapar kesakitan.

Derap langkahnya bergema di tembok yang ia lalui.
hoshh….hosshh…hoshhh… nafasnya terengah-engah. Namun ia tak berhenti berlari.

Stamina yang belum juga pulih menyebabkan Tomi tak bisa berlari terlalu jauh. Ia kini kehabisan napas. Ia tertunduk, menyandarkan dirinya di sebuah tembok dengan tangan kirinya sambil memegang dadanya dengan tangan yang lain.

Pisau kecil yang tadi ia bawa kini ia lemparkan kedalam selokan.
Ia tak butuh benda seperti itu untuk mempertahankan diri.

Cahaya keemasan mulai nampak di ufuk timur, tanda bahwa sang fajar akan segera menemani harinya. Tak terhitung sudah berapa lama Tomi berjalan menjauh dari insiden itu. lututnya kini mulai kram. Ngilu sekali rasanya, ia bahkan sudah tak bisa lagi membedakan yang mana telapak kakinya dan yang mana sol sepatu. Seakan keduanya telah menyatu.

Disebuah warung rokok kecil pinggir jalan ia menghentikan langkahnya. Terlihat pemuda pemilik warung itu sedang membereskan dagangannya. Pemuda itu memandang ke arah Tomi.

lari pagi kok subuh-subuh gini mas…. tanya pemilik warung itu.
hahaha…. ngak mas… tadi abis berantem sama preman….
wooooo….. hati-hati mas kalo di daerah sini malem-malem… kamu bukan orang sini ya?
iya…. mas aku beli roti sama aqua gelas mas…..
tuh pilih aja rotinya… itu roti kemaren lho tapinya, jadi pilih yang bener, jangan yang udah jamuran….
Tomi melongok dan mulai memilah roti di keranjang itu dengan sebelah tangan. Pilihannya jatuh pada sebuah roti isi coklat.
ini aja mas…. sama aqua gelas.. jadi berapa?
seribu limaratus….

Tomi merogoh kantung celananya mencari selembar uang pecahan dua ribu rupiah untuk membayar roti itu.
ini mas… aku ambil aquanya satu lagi deh biar pas….
yowes…. makasi ya..

Tomi mengambil dua buah air minum gelas di dalam box es batu berwarna merah. Ia kini duduk di trotoar jalan sambil menikmati sarapannya.

Terlihat di kejauhan cahaya menyilaukan mulai nampak di ujung jalan yang mengarah ke timur. Sang fajar sudah kembali. Langit biru gelap yang tadinya mendominasi, kini telah berganti dengan langit biru cerah. Di sisi yang lain, bulan yang tadinya terang benderang kini mulai memudar.

hheeeeehhh…
Tomi kembali menghela nafas panjang untuk kesekian kalinya. Mulutnya masih penuh dengan roti yang sedaritadi ia kunyah. Kerongkongannya tak kuasa menelan makanan itu.

ngak enaaaakkk….. begitu umpatnya dalam hati.
Tapi apa mau dikata. Itulah kenyataan.

Tidak selamanya orang akan berada di atas. Ada kalanya seseorang harus menelan pil pahit dan asam garam kehidupan.

Entah sampai kapan, Tomi tak mampu menjawabnya.
Yang pasti, ia harus tetap bertahan.

Dendam yang terbalas kini menyisakan ganjaran penderitaan yang harus ia jalani.
Suka atau tidak suka bukanlah pilihan.

Pilihannya saat ini hanyalah bebas tapi menderita, atau terpenjara dan menderita.
Kalau pembaca jadi Tomi…… anda mau pilih yang mana????

HOPE BAB 1 END

Author: 

Related Posts

Comments are closed.