Cerita Sex Cinta Sejati – Part 9

Cerita Sex Cinta Sejati – Part 9by on.Cerita Sex Cinta Sejati – Part 9Cinta Sejati – Part 9 Ok, langsung saja katanya. Saya mau kamu menjauhi anak saya dan gak usah berurusan sama dia lagi Gimana, kamu gak keberatan, kan..? kata beliau lagi. Cinta Sejati Bagian 6 Ketika Papamu Bicara (2) Benar dugaanku. Aku menahan diri untuk tetap sopan pada beliau. Aku berusaha tenang, aku gak mau terpancing […]

multixnxx- Hikaru Kirameki Hikaru Kirameki enjoys s-10 (1) multixnxx- Hikaru Kirameki Hikaru Kirameki enjoys s-13 (1) multixnxx- Kosaka Kosaka Asian plays with tongue ar-5Cinta Sejati – Part 9

Ok, langsung saja katanya. Saya mau kamu menjauhi anak saya dan gak usah berurusan sama dia lagi
Gimana, kamu gak keberatan, kan..? kata beliau lagi.

Cinta Sejati
Bagian 6
Ketika Papamu Bicara (2)

Benar dugaanku. Aku menahan diri untuk tetap sopan pada beliau.
Aku berusaha tenang, aku gak mau terpancing emosi atau malah ketakutan pada bapak satu ini.
Saya gak keberatan, pak jawabku tenang Asal bapak bisa kasih saya alasan yang tepat kenapa saya harus menjauhi Pipit, saya akan dengan senang hati menuruti maunya Bapak

Papanya Pipit mendengus kesal. Matanya menatap tajam kepadaku. Tapi salah jika calon mertua ku ini mengira aku akan gentar.
Sudah, kamu gak usah banyak omong.. katanya gusar. Pokoknya saya gak suka kamu dekat dengan anak saya, titik..!!

Aku mencoba tersenyum, agar beliau memahami jika sikap beliau sungguh gak bijaksana.
kalau begitu, saya mohon maaf, Pak jawabku tenang. Saya dekat dengan Pipit karena ada alasannya, dan saya gak akan mau jika bapak memerintahkan saya menjauhi Pipit tanpa alasan yang jelas
sekalipun bapak adalah papanya Pipit tegasku dengan suara yang tetap aku usahakan tenang.
Namun ternyata jawabanku malah memancing emosi orang tua ini.
Kamu jangan coba-coba melawan saya, ya..!! bentaknya pelan. Rupanya beliau masih sadar jika ini rumah makan, tempat umum. dan jangan memaksa saya untuk mengambil tindakan tegas padamu!

Maaf pak, sekali lagi mohon maaf. Saya gak pernah bermaksud menentang Bapak kataku. tapi tadi saya sudah jelaskan, saya gak akan mau menjauhi Pipit tanpa alasan yang jelas dari Bapak
Kenapa kamu gak mau..?? sentaknya. Saya ayahnya, saya berhak menentukan siapa yang boleh dekat dengan anak saya dan siapa yang gak boleh..!

Karena saya mencintai Pipit, Pak jawabanku meledakkan tawanya.
Heh, anak kecil tau apa kamu tentang cinta..?? ejeknya. Aku hanya tersenyum.
Saya gak mau tau, mulai sekarang kamu gak boleh berhubungan dengan Pipit lagi..!
Alasannya? tanyaku tenang tapi ngeyel.
Jangan kurang ajar kamu, Raka desisnya marah.
kalo gitu maaf pak, saya gak bisa

Mukanya merah padam mendengar jawabanku. Ditatapnya mataku dengan penuh kemarahan.
Kemudian beliau membayar minuman kami dan keluar dari warung makan itu.
Raka, kamu ikut saya..!! katanya tegas.

Aku menurut. Aku ikuti beliau naik ke mobil dan beliau melaju kencang menuju sebuah tempat yang agak sepi di pinggir kotaku. Aku kenal benar tempat ini, jalur awal jika ingin hiking ke Gunung Betung.
Disebuah tempat yang agak sepi, beliau menghentikan mobilnya.

Turun..! kata beliau sambil membuka pintu mobil dan turun duluan.
Aku mengikuti beliau turun, aku tetap membawa tasku apa pun mau si bapak dari tadi bersamaku.
Sampai di luar, aku dan beliau berdiri berhadap-hadapan. Aku tak takut menatap matanya, walau beliau menatapku penuh emosi dan terlihat sangat ingin menelanku hiduphidup.

Sekali lagi saya minta sama kamu ya, Raka dan tolong ikuti apa yang saya mau mumpung saya masih memintanya baik-baik padamu katanya penuh emosi. Kamu jangan dekati anak saya lagi. Paham kamu??!!

Saya mencintai Pipit, pak belum selesaikan kalimatku, tamparannya mendarat di pipiku.
Plaakkkk…!!!!
Panas. Pedih.
Rupanya kamu gak bisa diajak bicara baik-baik geramnya.

Aku mundur dua langkah, semata agar aku jauh dari jangkauan tangannya agar aku bisa menyelesaikan kalimatku.

dan saya yakin Pipit juga cinta pada saya kataku agak keras. Saya gak akan menuruti maunya bapak. Percuma bapak melarang saya!

Kurang ajaarr.!!! Geramnya sambil melangkah maju menghampiriku dengan tangan terkepal. Seketika aku melemparkan tas ku tanah dan mundur memasang kuda-kuda. Tindakanku ternyata berhasil membuatnya kaget dan terdiam.

Jika itu mau kamu, jangan salahkan saya, anak kurang ajar ujarnya masih geram. Jika kamu mau tau alasannya kenapa saya gak ingin anak saya dekat dengan kamu!!

Aku kembali berdiri normal, tetap bersikap sopan dan tenang menatap matanya.

Saya tau siapa kamu, siapa orang tua kamu, dan dari keluarga macam apa kamu berasal katanya penuh penekanan. dan saya gak mau anak saya pacaran dengan anak miskin gak jelas kayak kamu!!!

Ini lebih keras dari tamparannya tadi. Ini lebih panas dan lebih pedih, berjuta kali lipat. Terasa mataku mulai terasa panas.

Jangan buat saya menghina kamu dan keluargamu lebih dari ini, Raka tukasnya. dan jika kamu masih membangkang juga, jangan kamu kira saya gak bisa lebih kejam dari ini Saya bisa buat keluargamu makin miskin! ancamnya. Saya bisa buat kantin ibumu dan bengkel bapakmu ditutup..!!

Cukup. Orang ini sudah keterlaluan.
Saya akan jauhi Pipit! teriakku pada papanya Pipit.
Bapak menghina saya dan keluarga saya, merendahkan saya dan keluarga saya, bahkan mengancam keluarga saya kata ku geram. Orang ini sudah gak layak untuk dihormati lagi.
Saya akan jauhi Pipit jika itu yang Bapak mau geramku menatap langsung ke matanya. Tapi bapak jangan pernah menghina orang tua saya

Bagus kalo begitu..!! Berarti kamu sadar diri. tukasnya. Awas kalo kamu masih mendekati anak saya, saya gak main-main dengan ucapan saya tadi, Raka!!

Dan beliau pergi, meninggal debu dari roda mobilnya menerpa wajahku.
Aku, Raka Murdiantoro, memang anak orang tak mampu.
Tapi jangan pernah menghina kedua orangtuaku yang sudah menyabung nyawa demi kami anak-anaknya.

Dengan langkah gontai, aku berjalan menuju pulang ke rumah yang kini semakin jauh dari seharusnya. Sepanjang perjalanan, aku sangat berduka. Kenapa bisa Pipit yang begitu lembut, ternyata punya papa yang demikian kejam dan sangat merendahkanku. Padahal Pipit sangat memuja papanya. Aku saja sempat berfikir kalo papanya adalah seorang ayah yang baik dan bijak, sampai pada kenyataan apa yang baru saja aku alami dengan beliau.

Hatiku penuh dengan dendam, tapi aku percaya roda nasib akan berputar.
Tungga saja, pak.. Suatu saat aku akan membuatmu menyesal karena menghina keadaanku yang miskin.

oOo

Author: 

Related Posts

Comments are closed.